Tinggalkan Trauma Perang Dunia II, Jerman Kini Agresif Bangun Militer

2 hours ago 2

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia

25 May 2026 19:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama puluhan tahun setelah Perang Dunia II, Jerman dikenal sangat berhati-hati soal militer. Sebagai negara dengan sejarah perang paling sensitif di Eropa, Berlin lebih sering diasosiasikan dengan kekuatan ekonomi, industri otomotif, dan ekspor dibanding tank atau persenjataan.

Namun perang di Ukraina perlahan mengubah cara Jerman melihat keamanan.

Pada 2022, Kanselir Olaf Scholz mengumumkan dana khusus pertahanan senilai €100 miliar untuk memodernisasi militer Jerman atau Bundeswehr. Langkah itu menjadi salah satu perubahan kebijakan terbesar Jerman sejak berakhirnya Perang Dingin.

Scholz bahkan menyebut momen tersebut sebagai Zeitenwende atau "titik balik".

Ancaman yang Kembali Terasa Nyata

Invasi Rusia ke Ukraina membuat banyak negara Eropa kembali melihat ancaman perang sebagai sesuatu yang nyata, bukan sekadar isu geopolitik jauh di luar kawasan.

Selama bertahun-tahun setelah Perang Dingin berakhir, banyak negara Eropa justru memangkas anggaran pertahanan. Kini situasinya berubah cepat. Isu keamanan kembali masuk ke pusat kebijakan ekonomi dan politik kawasan.

Di saat yang sama, Amerika Serikat juga semakin fokus menghadapi China di Asia. Kondisi itu membuat banyak negara Eropa mulai mempertanyakan seberapa lama mereka bisa terus bergantung pada perlindungan keamanan Washington.

"Tidak ada lagi keamanan gratis di Eropa," kata Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius tahun lalu.

Sebagai ekonomi terbesar Eropa dengan PDB sekitar US$4,7 triliun, tekanan terhadap Jerman pun ikut meningkat.

Target NATO Kini Jadi Fokus

Selama bertahun-tahun, Jerman kerap dikritik karena belanja pertahanannya dianggap terlalu rendah untuk ukuran ekonominya.

NATO sendiri memiliki target belanja militer minimal 2% dari PDB. Namun target tersebut lama menjadi perdebatan di Jerman karena isu militer masih sensitif di mata publik.

Perang Ukraina mengubah banyak hal.

Wajib Militer di JermanWajib Militer di Jerman Foto: The Economist

Pada 2024, Jerman diperkirakan akhirnya memenuhi target 2% NATO untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade. Menurut NATO, belanja pertahanan Jerman tahun ini diperkirakan mencapai sekitar €90 miliar atau setara lebih dari Rp1.600 triliun.

Jumlah itu membuat Jerman mulai mendekati posisi sebagai salah satu kekuatan militer terbesar di Eropa.

Efeknya Ikut Masuk ke Ekonomi

Peningkatan belanja pertahanan ternyata bukan cuma soal tank atau jet tempur.

Industri pertahanan Eropa kini ikut berkembang cepat, mulai dari produksi amunisi, sistem pertahanan udara, hingga teknologi drone dan AI militer. Perusahaan pertahanan Jerman Rheinmetall misalnya, mencatat kenaikan saham lebih dari 300% sejak perang Ukraina dimulai pada 2022.

Efeknya ikut merembet ke industri lain.

Belanja militer besar biasanya mendorong investasi manufaktur, rantai pasok, riset teknologi, hingga penciptaan lapangan kerja baru. NATO memperkirakan total belanja pertahanan negara-negara Eropa dan Kanada mencapai lebih dari US$430 miliar pada 2024, naik tajam dibanding sebelum perang Ukraina.

Belanja Pertahanan Jerman MelonjakBelanja Pertahanan Jerman Melonjak Foto: The Economist

Bukan Hanya Jerman

Perubahan ini sebenarnya terjadi di banyak negara Eropa.

Polandia kini menjadi salah satu negara NATO dengan belanja militer terbesar terhadap PDB, diperkirakan mencapai lebih dari 4%. Finlandia dan Swedia juga memutuskan bergabung dengan NATO setelah puluhan tahun mempertahankan posisi netral.

Pasar pun mulai membaca perubahan tersebut.

Saham perusahaan pertahanan Eropa seperti Rheinmetall, Saab, hingga BAE Systems melonjak dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya kebutuhan keamanan kawasan.

Eropa Memasuki Babak Baru

Perubahan sikap Jerman terasa penting karena ini bukan lagi sekadar cerita tentang satu negara yang menaikkan anggaran militer.

Bagi banyak pengamat, langkah Berlin menunjukkan bahwa dunia mungkin sedang memasuki era keamanan baru. Perang besar kembali terjadi di Eropa, sementara Amerika Serikat tidak bisa terus menjadi "payung keamanan" tunggal bagi sekutunya.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bahkan mengatakan negara-negara Eropa perlu mulai "berpikir dalam mentalitas masa perang" untuk menghadapi ancaman jangka panjang.

Selama bertahun-tahun, kekuatan ekonomi Jerman jauh lebih menonjol dibanding kekuatan militernya. Namun di tengah dunia yang semakin tidak stabil, Berlin kini tampaknya percaya bahwa ekonomi besar saja tidak lagi cukup.

Dan bagi banyak pengamat, perubahan itu mungkin bukan hanya mengubah Jerman, tetapi juga arah Eropa dalam beberapa dekade ke depan.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |