Timbunan Perak Ditemukan di Laut Dekat RI, Ternyata Pertanda Buruk

16 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Studi menemukan akumulasi perak di dasar Laut China Selatan, bagian utara laut Indonesia, yang terus bertambah sejak lebih dari seabad lalu.

Ini menjadi pertanda buruk, sebab peneliti menilai temuan ini menjadi indikasi dampak pemanasan global yang dipicu aktivitas manusia.

Riset penelitian dari Hefei University of Technology dan Guangdong Ocean University of China mengambil sampel dari kedalaman 1.878 meter dasar laut di lepas pantai Vietnam. Mereka mencoba mempelajari sejarah 3.200 tahun inti sedimen dari sampel itu.

Tempat pengambilan sampel merupakan wilayah yang terus menerus tertiup angin, membuatnya digantikan dengan air dari laut dalam yang dingin dan kaya nutrisi. Kondisi itu membuat lokasi sensitif pada perubahan lingkungan dan menjadi cerminan perubahan pada tingkat global.

Kandungan perak yang berada di dasar laut terus bertambah sejak 1850-an. Saat itu adalah awal revolusi industri, dan menjadi waktu saat lonjakan level Co2 terjadi di atmosfer.

Perak yang ditemukan di dasar Laut China Selatan disebut berasal dari aktivitas manufaktur, yakni sisa dari proses pembuatan peralatan fotografi.

Bukan hanya itu, para peneliti juga menemukan adanya faktor peningkatan musim panas Asia Timur yang sangat intens karena pemanasan global. Kondisi ini membuat hujan yang makin deras dan angin kencang membawa nutrisi ke permukaan laut, membuat mikroorganisme laut dapat lebih produktif untuk melakukan fotosintesis.

Mikroorganisme ini yang menyerap material perak dan kandungan metal dalam air laut. Kemudian saat mati, sisa mikroorganisme termasuk perak terbawa ke dasar laut.

Kemungkinan kondisi ini tidak hanya terjadi di wilayah pengambilan sampel di Laut China Selatan saja, karena dampaknya bisa terjadi di seluruh pantai yang ada di muka Bumi.

Masalah tidak terhenti di situ. Keadaan penumpukan perak dan mineral berharga akan mengundang aktivitas pertambangan dasar laut untuk perak, tembaga, timbal, emas dan material lain yang dibutuhkan untuk membuat baterai seperti nikel, mangan, dan kobalt.

Aktivitas pertambangan yang meningkat bisa berdampak pada lingkungan hidup, termasuk merusak keseimbangan laut.

Data dari Alam

Lebih dalam lagi, data dari sampel sedimen tersebut ibarat "data alam" yang merekam jejak perubahan lingkungan selama lebih dari 3.200 tahun. Selama ribuan tahun sebelum abad ke-19, kadar perak di dasar laut tersebut tercatat stabil dan rendah secara alami.

Perubahan drastis baru terlihat jelas sejak dimulainya Revolusi Industri sekitar tahun 1850-an ketika lonjakan kadar logam ini berjalan beriringan dengan peningkatan emisi karbon dioksida dan aktivitas industri skala besar di dunia. Hal ini makin memperkuat bukti bahwa dampak aktivitas manusia telah menembus jauh ke dalam ekosistem laut yang paling dalam dan terpencil sekalipun.

Selain dari limbah industri fotografi yang menjadi sumber utama sejarahnya, perak dan logam berat lainnya kini juga berasal dari sumber modern seperti limbah elektronik, pembakaran bahan bakar fosil, dan proses kimia industri lainnya yang terbawa aliran sungai maupun udara hingga ke lautan.

Pemanasan global berperan ganda. Selain menjadi penyebab kerusakan lingkungan, perubahan iklim ternyata juga bertindak sebagai "alat pengangkut". Peningkatan intensitas monsun dan arus laut akibat suhu yang makin panas mempercepat siklus biokimia laut.

Mikroorganisme menjadi lebih aktif menyerap logam terlarut dan akhirnya mengendapkannya ke dasar laut dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan dengan proses alami ribuan tahun lalu.

Di satu sisi, akumulasi logam berat dalam sedimen adalah racun jangka panjang bagi makhluk hidup dasar laut jika terganggu. Di sisi lain, tingginya kandungan mineral ini kini dilihat sebagai peluang ekonomi.

Seiring tingginya permintaan dunia akan bahan baku teknologi dan kendaraan listrik, industri pertambangan mulai melirik dasar laut sebagai sumber daya baru. Ekosistem laut dalam padahal sangat sensitif dan butuh waktu ratusan tahun untuk pulih.

Aktivitas penambangan dikhawatirkan akan mengaduk kembali endapan logam yang sudah tersimpan aman, menyebarkan polusi ke seluruh dunia, dan merusak habitat unik yang menjadi penyangga keseimbangan oksigen dan karbon di bumi. Jika hal ini terjadi, kerusakan lingkungan akibat ulah manusia bisa berlipat ganda dan menjadi sangat sulit dikendalikan.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |