Rupiah Lanjut Menguat, Nilai Tukar Dolar AS Turun ke Rp16.790

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (10/2/2026).

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup pada posisi Rp16.790/US$ atau terapresiasi tipis 0,03%. Hal ini sekaligus melanjutkan penguatan rupiah di perdagangan sebelumnya, dikala rupiah menguat 0,39% di level Rp16.795/US$.

Selama perdagangan hari ini, rupiah bergerak di rentang level Rp16.769 - Rp16.790/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB terpantau mengalami penguatan 0,08% di level 96,898. Meski demikian, pada perdagangan sebelumnya DXY ditutup melemah tajam sebesar 0,83% di level 96,816.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini disebabkan mulai terbentuknyakepercayaan pelakupasar keuangan terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang memang kuat.

"Ini posisi kita year to date, setelah rupiah melemah dalam 3 hari kini mulai menguat. Hari ini Rp 16.700-an," kata Destry dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa.

Destry menegaskan, dalam meningkatkan kepercayaan pelaku pasar keuangan, pemerintah dan BI terus konsisten membangun komunikasi yang jelas beberapa hari terakhir. Komunikasi terkait kondisi fundamental ekonomi yang kuat inilah kata dia yang sudah diterima pelaku pasar keuangan.

"Dua hari lalu saat MSCI ada laporan dan gejolak, ada apa ini? Tapi ada bold communication dari pemerintah dan regulator yang membuat market confidence lagi dan BI selalu sampaikan bahwa BI tetap di pasar menjaga stabilitas rupiah dan BI lakukan smart intervention," paparnya.

Destry pun memastikan, BI akan terus berada di pasar keuangan untuk memastikan stabilitas pergerakan nilai tukar rupiah terjaga ke arah penguatan, sesuai dengan fundamental ekonomi, yang ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi makin cepat hingga tekanan inflasi yang terkendali di kisaran target 2,5% plus minus 1%.

Sementara itu, rupiah juga mendapatkan dukungan dari eksternal seiring tren pelemahan dolar AS yang tengah terjadi di pasar global.

Tekanan terhadap dolar meningkat setelah laporan beberapa menyebut regulator China mengimbau lembaga keuangan untuk menahan laju kepemilikan surat utang pemerintah AS. Isu tersebut memunculkan kekhawatiran berkurangnya permintaan asing terhadap aset berdenominasi dolar AS.

Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung menahan posisi pada dolar dan memilih menunggu kepastian sehingga memberi ruang bagi mata uang lain termasuk rupiah untuk menguat.

(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |