- Pasar keuangan Tanah Air kompak ditutup menguat. IHSG hingga rupiah menguat serta obligasi yang kembali diburu investor.
- Wall Street berakhir di zona hijau jelang rapat The Fed
- Rapat FOMC The Fed akan dimulai, Eropa resmi larang impor LNG Rusia hingga terpilhnya deputi gubernur BI baru diperkirakan akan menjadi penggerak pasar hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air kompak menguat pada perdagangan kemarin, Senin (26/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat, seiring penguatan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu mempertahankan momentum penguatan pada perdagangan hari ini, Selasa (27/1/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Pada perdagangan kemarin, IHSG berhasil ditutup menguat 0,27% atau naik 24,32 poin ke level 8.975,33. Indeks bahkan sempat tercatat menguat lebih dari 1% pada perdagangan intraday sesi pertama yang ditopang oleh kinerja saham-saham sektor pertambangan dan perdagangan emas. Namun, penguatan tersebut terpangkas signifikan dan bahkan IHSG sempat berbalik bergerak di zona merah sebelum akhirnya kembali ditutup menguat
Sebanyak 267 saham naik,428 turun, dan110 belum bergerak. Nilai transaksi kemarin tergolong ramai atau mencapai Rp36,89 triliun, melibatkan 57,12 miliar saham dalam3,83 juta kali transaksi.
Adapun investor asing tercatat melakukan net buy tipis Rp24,25 miliar.
Melansir data Refinitiv,mayoritas sektor justru terkoreksi, dengan kenaikan tertinggi dicatatkan oleh sektor barang baku yang melesat 3,37% dan sektor energi yang naik 0,90%. Adapun sektor properti tercatat turun dalam hingga 3,36%, diikuti oleh industri dan konsumer non primer.
Saham emiten tambang emas tercatat menjadi penggerak utama kinerja IHSG, dengan tiga dari empat saham yang menopang kinerja indeks bergerak di sektor ini. Saham AMMN, EMAS dan ANTM secara kolektif menyumbang40,76 indeks poin.
Adapun berdasarkan pergerakan per emiten, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) tercatat naik 9,03%. Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melonjak agresif dengan penguatan 10,96%.
Saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) juga menguat 4,91% yang diikuti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang naik 2,40%. Adapun saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatat lonjakan paling tajam sebesar 18,22%.
Di sisi lain, saham-saham emiten konglomerat justru kompak membebani kinerja IHSG di perdagangan kemarin.
Saham Bumi Resources (BUMI), Bayan Resources (BYAN),Petrosea (PTRO), Bukit Uluwatu Villa (BUVA), Darma Henwa(DEWS) dan Pantai Indah Kapuk Dua (PANI) tercatat terkoreksi tajam dan membebani kinerja IHSG.
Secara spesifik saham BUMI yang masih menjadi efek paling ramai ditransaksikan di bursa harus terkoreksi hingga 7,78% dan menjadi beban terbesar IHSG dengan sumbangsih koreksi 7,27 indeks poin.
Beralih ke pasar valuta asing, Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama pekan ini, Senin (26/1/2026), seiring melemahnya dolar AS di pasar global.
Merujuk data Refinitiv,mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp16.770/US$ atau menguat 0,24%. Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif rupiah yang telah menguat dalam empat hari perdagangan beruntun.
Adapun, di sepanjang perdagangan kemarin, rupiah bergerak di rentang Rp16.750-Rp16.785/US$. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) per kemarin sore, terpantau melemah 0,42% ke level 97,194.
Penguatan rupiah kemarin turut ditopang faktor eksternal, terutama pelemahan dolar AS di pasar global. Koreksi DXY mencerminkan tekanan jual pada aset berdenominasi dolar, sehingga sebagian arus dana berpotensi bergeser ke aset berisiko dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dolar AS juga berada di jalur penurunan mingguan paling tajam sejak Juni 2025, di tengah ketegangan geopolitik yang membuat investor lebih waspada. Kondisi ini kembali memunculkan narasi "Sell America", yang sempat mencuat usai gelombang tarif "Liberation Day" tahun lalu.
Sentimen global masih dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan Presiden AS Donald Trump. Pada pekan lalu, Trump sempat mengangkat ancaman tarif terhadap Eropa terkait isu Greenland, namun kemudian menarik ancaman tersebut setelah menyebut ada kerangka kesepakatan dengan NATO dan menegaskan tidak akan mengambil wilayah otonom Denmark itu dengan kekuatan.
Pergeseran sikap yang cepat ini membuat pasar menilai risiko kebijakan AS masih tinggi, sehingga tekanan terhadap dolar berlanjut.
Menariknya, dolar tetap melemah meski imbal hasil obligasi pemerintah AS cenderung stabil. Ini memberi sinyal bahwa tekanan terhadap greenback saat ini lebih banyak datang dari faktor politik dan ketidakpastian kebijakan, bukan semata arah suku bunga.
Ke depan, fokus pasar akan beralih ke rapat kebijakan The Federal Reserve (The Fed) pekan ini. Pelaku pasar masih memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga 25 basis poin berpotensi terjadi pada pertengahan tahun, dengan kemungkinan tambahan satu kali pemangkasan lagi pada paruh kedua 2026.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat turun tajam hingga 1,31% ke level 6,333%. Sebagai catatan, penurunan imbal hasil mengindikasikan meningkatnya minat investor untuk kembali membeli SBN.

1 week ago
14
















































