Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat (AS) masih berlangsung karena gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan di Pakistan. Kegagalan tersebut karena Iran menduga AS mencari-cari alasan untuk meninggalkan perundingan.
Melansir Al-Jazeera yang mengutip kantor berita Iran mengatakan, kesepakatan bergantung pada perubahan tuntutan AS yang dianggap Iran tidak masuk akal. Padahal, terkait kawasan Selat Hormuz merupakan salah satu dari beberapa isu kontroversial yang perlu diselesaikan.
Namun, kedua negara tersebut hingga saat ini sedang berupaya menemukan titik temu. Mediator Pakistan sedang berusaha untuk menyelesaikan perbedaan dan mendekatkan pendapat.
Kedua dari negara tersebut yang melakukan negosiasi telah mundur untuk berkonsultasi dengan tim ahli masing-masing mengenai teks yang diusulkan. Selanjutnya pembahasan akan dilanjutkan setelah draf tersebut siap.
Sementara sumber lain yang dekat dengan delegasi Iran menyebut AS menuntut hal-hal yang mustahil dilakukan dari perang selama pembicaraan di Islamabad. Artinya, Iran tidak menerima syarat-syarat ambisius Amerika mengenai Selat Hormuz, energi nuklir damai, dan sejumlah isu lainnya.
Wapres AS JD Vance Katakan Ini
Presiden AS JD Vance mengatakan Washington telah mengajukan penawaran final dan terbaik. Vance mengisyaratkan bahwa pihaknya masih memberi waktu kepada Iran untuk mempertimbangkan tawaran dari Amerika Serikat.
Sebelumnya, Washington mengatakan akan menunda serangan bersama Israel selama dua minggu sambil menunggu hasil negosiasi.
"Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan penawaran final dan terbaik kami. Kita akan lihat apakah pihak Iran menerimanya," kata Vance kepada wartawan setelah 21 jam perundingan di Islamabad, dikutip dari AFP, Minggu (12/4/2026).
Vance mengatakan bahwa sengketa utama dalam pembicaraan itu terkait senjata nuklir. Iran bersikeras tidak sedang membuat bom atom.
"Fakta sederhananya, kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mencari senjata nuklir dan tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka cepat mencapainya," ujarnya.
Namun hingga pembicaraan berakhir, AS mengaku belum melihat komitmen tersebut dari Iran.
"Kami belum melihat itu. Kami berharap kami akan melihatnya," kata Vance.
Sebelumnya, Amerika Serikat menyatakan akan menunda serangan bersama Israel selama dua minggu untuk memberi ruang negosiasi. Langkah itu disebut sebagai bagian dari upaya diplomatik terakhir sebelum keputusan lanjutan diambil.
Selain isu nuklir, pembicaraan juga berlangsung di tengah ketegangan terkait Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Namun Vance tidak merinci adanya perbedaan signifikan terkait isu tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa Presiden Donald Trump, telah bersikap akomodatif dalam perundingan tersebut.
"Saya pikir kami cukup fleksibel. Kami cukup akomodatif. Presiden mengatakan kepada kami, kalian harus datang dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik untuk mencapai kesepakatan," ucap Vance.
"Kami telah melakukannya dan, sayangnya, kami tidak mampu membuat kemajuan." imbuhnya.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

5 hours ago
3
















































