Malapetaka Ancam Negara Eropa, Warga Bisa Membeku

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Estonia dilaporkan mengalami krisis pasokan kayu bakar kering di tengah musim dingin yang tidak biasa dan suhu ekstrem yang melanda kawasan tersebut.

Media lokal ERR menyebut persediaan kayu bakar yang telah dikeringkan hampir habis, sementara lonjakan harga listrik membuat proses pengolahan stok baru menjadi tidak ekonomis bagi pelaku usaha.

Musim dingin tahun ini menjadi salah satu yang terdingin dalam sekitar 25 tahun terakhir, dengan suhu malam hari dilaporkan turun hingga minus 15 derajat Celsius. Kondisi ini meningkatkan kebutuhan pemanas rumah tangga secara signifikan, namun justru bertepatan dengan terbatasnya ketersediaan kayu bakar yang siap digunakan.

Pemilik penggergajian kayu, Taavi Rada, mengatakan kepada ERR bahwa saat ini pasokan yang tersedia hanyalah kayu segar yang belum dikeringkan. "Saat ini kami hanya memiliki kayu segar. Kami tidak memiliki kayu kering lagi," ujarnya, dikutip Selasa (17/2/2026).

Ia menjelaskan beberapa musim dingin sebelumnya yang relatif hangat membuat permintaan kayu bakar kering menurun, sehingga pelaku usaha tidak lagi menyimpan stok besar karena dianggap tidak menguntungkan.

Hal serupa diungkapkan warga lokal Tarmo Kamm yang telah mengeringkan kayu bakar selama lebih dari 30 tahun. Ia menilai harga kayu bakar yang sudah melalui proses pengeringan kini terlalu mahal sehingga banyak warga beralih ke kayu mentah yang lebih murah.

Namun penggunaan kayu yang belum dikeringkan memiliki kelemahan karena kadar airnya tinggi, menghasilkan asap berlebih dan panas yang jauh lebih rendah. Secara ideal, kayu bakar membutuhkan waktu pengeringan hingga dua tahun untuk mencapai tingkat kelembapan optimal di bawah 20%.

Kekurangan pasokan ini juga dipicu oleh kebiasaan warga membeli kayu bakar lebih awal. Pada Februari tahun lalu, pemerintah Estonia sempat merekomendasikan masyarakat untuk menimbun kebutuhan pokok termasuk bahan pemanas, menyusul kekhawatiran potensi pemadaman listrik saat negara tersebut bersiap melepaskan diri dari jaringan listrik Rusia.

Hal itu sebagai bagian dari upaya negara-negara Uni Eropa memutus ketergantungan energi jangka panjang dengan Moskow.

Negara-negara Baltik ini beralasan ketergantungan pada jaringan listrik yang dikendalikan Moskow berpotensi menjadi ancaman apabila Rusia memanfaatkan pasokan listrik sebagai senjata geopolitik dan memutus sambungan jaringan.

Kekhawatiran tersebut sejauh ini tidak pernah benar-benar terjadi. Namun setelah proses pemisahan jaringan listrik dilakukan, harga listrik di Estonia serta negara tetangganya Latvia dan Lithuania dilaporkan hampir melonjak dua kali lipat.

ERR menilai kenaikan tarif listrik justru menjadi faktor tidak langsung yang memperparah kelangkaan kayu bakar. Tarmo Kamm mengungkapkan biaya listrik yang tinggi membuat proses pemotongan dan pembelahan kayu tidak lagi masuk hitungan bisnis.

"Harga listrik sangat tinggi sehingga saat ini tidak ada gunanya menggergaji dan membelah kayu menggunakan listrik. Saya bisa menggergaji lebih dulu dengan gergaji mesin berbahan bakar bensin, tetapi tetap harus membelahnya dengan listrik. Motornya 4 kilowatt, silakan hitung sendiri," katanya.

Para pedagang grosir juga mengonfirmasi kepada ERR bahwa briket dan pelet sebagai alternatif bahan bakar pemanas turut mengalami kekurangan pasokan. Produksi kedua komoditas tersebut sangat bergantung pada konsumsi listrik yang besar, sehingga kenaikan harga energi berdampak langsung pada kemampuan produksi dan distribusinya di pasar domestik.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |