Jakarta, CNBC Indonesia - Angkatan Laut Prancis menyita sebuah kapal tanker minyak yang berlayar dari pelabuhan Rusia dan diduga menjadi bagian dari armada bayangan Moskow untuk menghindari sanksi internasional. Langkah tersebut memicu kemarahan Kremlin yang menyebut tindakan Prancis sebagai aksi yang mendekati pembajakan internasional.
Dilansir CNN International, Kapal tanker bernama Tagor itu dicegat di Samudra Atlantik dan menjadi kapal ketiga yang diketahui disita dalam beberapa bulan terakhir terkait dugaan pelanggaran sanksi terhadap ekspor minyak Rusia.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan penyitaan tersebut melalui media sosial X pada Senin (1/6/2026) waktu setempat.
Menurut Macron, operasi dilakukan oleh Angkatan Laut Prancis di perairan internasional dengan dukungan sejumlah negara mitra, termasuk Inggris.
"Kapal itu disita di Atlantik 'di perairan internasional, dengan dukungan beberapa mitra termasuk Inggris, dengan kepatuhan ketat terhadap hukum laut'," tulis Macron.
Data pelacakan kapal menunjukkan kapal tanker minyak mentah yang terdaftar di Madagaskar tersebut terakhir terpantau berada di Atlantik Utara sekitar lima hari lalu setelah berangkat dari Pelabuhan Umba di Rusia.
Tagor diketahui telah masuk dalam daftar sanksi yang dijatuhkan oleh Uni Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat.
Macron menegaskan bahwa Prancis tidak akan membiarkan kapal-kapal yang melanggar sanksi internasional terus beroperasi bebas di lautan.
"Tidak dapat diterima jika kapal-kapal menghindari sanksi internasional, melanggar hukum laut, dan mendanai perang yang telah dilancarkan Rusia terhadap Ukraina selama lebih dari empat tahun," kata Macron.
Ia juga memperingatkan bahwa keberadaan kapal-kapal tersebut tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran sanksi, tetapi juga menimbulkan ancaman keselamatan pelayaran dan lingkungan.
"Kapal-kapal ini, yang gagal mematuhi aturan paling dasar dalam navigasi maritim, juga menimbulkan ancaman terhadap lingkungan dan keselamatan semua orang," ujarnya.
Prancis selama beberapa bulan terakhir menjadi salah satu negara Eropa yang paling vokal mendorong pengetatan pengawasan terhadap armada tanker Rusia yang diduga digunakan untuk menghindari pembatasan ekspor minyak.
Menurut Paris, banyak kapal tersebut beroperasi menggunakan bendera palsu, tidak memiliki asuransi yang sah, atau tidak mengantongi sertifikasi keselamatan pelayaran yang memadai.
Pemerintah Rusia bereaksi keras terhadap penyitaan Tagor. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menolak klaim Prancis bahwa operasi tersebut dilakukan sesuai hukum internasional.
"Kami sama sekali tidak setuju bahwa tindakan itu dilakukan dengan kepatuhan penuh terhadap hukum internasional," kata Peskov.
Ia bahkan menyebut operasi Prancis sebagai tindakan yang "ilegal, mendekati pembajakan internasional". Kedutaan Besar Rusia di Paris juga ikut menyoroti kasus tersebut.
Menurut kantor berita pemerintah Rusia , kapten kapal Tagor diyakini merupakan warga negara Rusia.
Pihak kedutaan menyatakan telah meminta klarifikasi kepada otoritas Prancis mengenai kemungkinan adanya warga Rusia lain di antara awak kapal, namun hingga kini belum memperoleh jawaban.
Penyitaan Tagor menambah daftar kapal yang ditindak oleh negara-negara Barat karena diduga menjadi bagian dari apa yang disebut sebagai armada bayangan Rusia.
Armada tersebut terdiri dari ratusan kapal tanker yang diyakini digunakan Moskow untuk mengangkut minyak ke pasar internasional di luar mekanisme sanksi Barat.
Pada Maret lalu, Angkatan Laut Prancis juga menyita sebuah kapal tanker minyak di Laut Mediterania.
Saat itu Macron menyatakan kapal tersebut merupakan bagian dari armada bayangan Rusia yang digunakan untuk menghindari sanksi.
"Kapal-kapal ini berupaya meraih keuntungan dan membiayai upaya perang Rusia," kata Macron kala itu.
Negara-negara Barat menuduh armada tersebut menjadi salah satu sumber utama pendapatan Moskow di tengah pembatasan ekonomi yang diberlakukan sejak invasi Rusia ke Ukraina.
Adapun langkah Prancis dilakukan di tengah perbedaan pendekatan antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa terkait perdagangan minyak Rusia.
AS diketahui telah melonggarkan sebagian sanksi terhadap minyak Rusia yang sudah berada di laut. Kebijakan tersebut diambil ketika konflik besar di Timur Tengah mengganggu pasokan energi global dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasar minyak.
Namun, negara-negara Eropa tidak mengikuti langkah Washington. Sebaliknya, sejumlah negara Eropa justru memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal yang diduga membawa minyak Rusia secara terselubung. Pemerintah Inggris pada Maret lalu menegaskan bahwa memerangi armada bayangan Rusia merupakan prioritas utama.
"Mengganggu, menghalangi, dan melemahkan armada bayangan Rusia, serta memutus sumber pendanaan mesin perang Putin, adalah prioritas bagi pemerintah ini dan para sekutunya," kata pemerintah Inggris.
Sebelum penyitaan Tagor, Prancis telah beberapa kali melakukan operasi serupa. Pada Januari, otoritas Prancis menghentikan sebuah kapal tanker minyak di perairan antara pantai selatan Spanyol dan pantai utara Maroko karena dicurigai menjadi bagian dari armada bayangan Rusia.
Kemudian pada Maret, Belgia juga mencegat kapal tanker lain yang diduga berlayar menggunakan "bendera palsu dan dokumen palsu". Operasi Belgia tersebut dilakukan dengan bantuan Prancis.
(luc/luc)
Addsource on Google

18 hours ago
3

















































