Kenali Infeksi Primer Varicella Zoster Virus (VZV) yang Diderita Anak

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Varicella atau yang lebih dikenal sebagai cacar air merupakan infeksi primer yang disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV). Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak, terutama mereka yang belum pernah terinfeksi sebelumnya atau belum mendapatkan imunisasi varicella.

Dokter Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Ratni Indrawanti, Sp.A, Subsp.I.P.T(K) mengatakan bahwa VZV termasuk dalam kelompok virus herpes yang sangat mudah menular. Penularan varicella terjadi melalui droplet udara saat penderita batuk atau bersin, serta kontak langsung dengan cairan dari lepuhan kulit.

"Varicella-zoster virus (VZV) adalah alpha-herpesvirus manusia patogen yang menyebabkan cacar air (varicella) sebagai infeksi primer, yang biasanya terjadi pada anak-anak. Virus ini sangat menular dan ditandai dengan ruam gatal berisi cairan, dapat menular melalui droplet udara atau kontak langsung dengan cairan lepuh penderita," kata dr. Ratni Indrawanti saat acara media briefing IDAI, Selasa (13/1/2026).

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa setelah terinfeksi, virus tetap laten dalam tubuh seumur hidup lalu bisa aktif kembali menyebabkan herpes zoster (cacar api) di kemudian hari. Pada anak, varicella umumnya diawali dengan gejala ringan seperti demam, lemas, nafsu makan menurun, dan sakit kepala.

Setelah itu muncul ruam kemerahan yang berkembang menjadi lenting berisi cairan, kemudian mengering dan membentuk keropeng. Ruam ini biasanya muncul bertahap dan dapat menyebar ke seluruh tubuh, termasuk wajah, kulit kepala, dan anggota gerak.

Sebagian besar kasus varicella pada anak bersifat ringan dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7-14 hari. Namun demikian, pada beberapa anak, terutama bayi, anak dengan daya tahan tubuh lemah, atau mereka yang memiliki penyakit penyerta, varicella dapat menimbulkan komplikasi.

Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain infeksi kulit sekunder akibat garukan, pneumonia, hingga gangguan saraf seperti ensefalitis meskipun jarang.
Setelah infeksi primer sembuh, virus VZV tidak sepenuhnya hilang dari tubuh. Virus akan menetap dalam keadaan dorman di saraf dan dapat kembali aktif di kemudian hari sebagai herpes zoster atau cacar api, biasanya saat sistem kekebalan tubuh menurun.

Pencegahan
Upaya pencegahan varicella yang paling efektif adalah melalui imunisasi. Vaksin varicella telah terbukti aman dan efektif dalam mencegah infeksi maupun mengurangi keparahan penyakit jika infeksi tetap terjadi. Imunisasi varicella direkomendasikan untuk anak-anak sesuai jadwal yang ditetapkan oleh tenaga kesehatan.

Selain imunisasi, pencegahan penularan juga dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan, menghindari kontak dengan penderita varicella, serta mengisolasi anak yang terinfeksi hingga seluruh ruam mengering. Edukasi kepada orang tua mengenai tanda dan gejala varicella sangat penting agar penanganan dapat dilakukan secara tepat dan komplikasi dapat dicegah.

"Dengan pemahaman yang baik mengenai varicella sebagai infeksi primer Varicella Zoster Virus pada anak, diharapkan orang tua dan masyarakat dapat lebih waspada sekaligus proaktif dalam upaya pencegahan dan penanganannya," ungkap dokter Ratni.

(miq/miq)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |