Jadi Warisan Budaya, Begini Upaya Bawa Industri Jamu Mendunia

8 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia memiliki jejak panjang dalam pemanfaatan jamu dan herbal, terutama dengan adanya 'harta karun' berupa tanaman obat yang tersimpan di tanah air. Bahkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat, Indonesia memiliki 30 ribu spesies tumbuhan dan sekitar 1.845 spesies yang teridentifikasi tanaman obat.

Indonesia pun menyimpan sekitar 80% dari tanaman obat dunia dan membuat industri jamu memiliki potensi besar yang harus dimanfaatkan secara maksimal.

Ketua BPOM RI Taruna Ikrar kekayaan tanaman obat di Indonesia serta jejak panjang pada pemanfaatan jamu menjadi modal strategis untuk memperkuat kemandirian kesehatan bangsa. Indonesia memiliki potensi pengembangan obat bahan alam berbasis sumber daya lokal, bahkan menjadi industri strategis, yang modern, inovatif, dan berdaya saing global.

"Jamu merupakan kebanggaan kita, sehingga harus bisa berkembang menjadi proud kesehatan modern berbasis riset dan inovasi. Transformasi ini sangat penting karena dunia saat ini sedang bergerak menuju trend back to nature, prevention healthcare, dan wellness lifestyle," ungkap Taruna dalam Health Forum CNBC Indonesia, dikutip Selasa (2/06/2026).

Menurutnya masyarakat global kini semakin mencari produk kesehatan berkualitas dengan bahan alami yang aman. Dia menegaskan, inilah kesempatan Indonesia untuk mengembangkan industri jamu.

Apalagi, jamu merupakan identitas bangsa, warisan pengetahuan empiris, dan telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda di dunia. Namun, industri jamu membutuhkan peran anak muda agar bisa semakin berkembang dan bisa mendunia.

Selain itu, dibutuhkan pula dukungan regulasi dan inovasi produk agar bisa terus relevan di tengah perubahan zaman. Taruna menegaskan dibutuhkan pembuktian ilmiah melalui uji praklinik dan uji klinik agar khasiat obat bahan alam dapat dibuktikan secara objektif dan dapat diterima dalam sistem pelayanan kesehatan modern.

"Kita juga membutuhkan inovasi teknologi farmasi untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk Jamu. Melalui teknologi modern, formulasi herbal kini dapat dibuat lebih stabil, lebih nyaman dikonsumsi, dan lebih diterima oleh generasi muda," ujar Taruna.

Tidak berhenti di situ, juga dibutuhkan kolaborasi dan pendampingan pada UMKM jamu untuk mengembangkan industri ini menjadi salah satu andalan bagi perekonomian nasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mendampingi UMKM melalui proaksi berpadu, program akselerasi bersama registrasi dan pendampingan terpadu.

Program ini ditujukan untuk mendampingi pelaku usaha, termasuk startup dan UMKM, agar mampu memenuhi standar dan mempercepat proses registrasi produk.

"UMKM Jamu memiliki posisi yang sangat penting dalam ekosistem herbal nasional. Karena itu, Badan POM terus melakukan pembinaan UMKM melalui berbagai program pendampingan," ujar Taruna.

Dari sisi industri, Presiden Direktur PT Phytochemindo Reksa, Patrick Kalona mengakui pengembangan jamu dan obat herbal di tanah air akan terus tumbuh ini dinilainya tetap tumbuh. Meski demikian, dia mengakui industri ekstrak herbal RI menghadapi banyak tantangan.

Hal tersebut didukung oleh ekosistem yang dibentuk oleh BPOM dan kementerian terkait dalam mendorong kinerja industri.

"Kami melihat perkembangannya dalam 10 tahun terakhir, jumlah perusahaan ekstrak herbal itu terus meningkat," jelas Patrick.

Dia mengatakan, 10 tahun lalu perusahaan ekstrak herbal baru ada 6, dan kini telah bertambah menjadi 22 perusahaan yang serlah beroperasi. Artinya sektor ini semakin diminati dan terus berkembang.

Standar pembuatan obat herbal seperti jamu di dalam negeri pun sudah tergolong sangat baik. Sebab, sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dirancang agar sesuai panduan dari International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (IRCH).

Patrick menambahkan, pihaknya terus berupaya mengimbau semua pelaku usaha industri jamu untuk mengikuti peraturan yang ada. Pasalnya, kepatuhan terhadap regulasi akan membantu setiap produsen jamu untuk naik kelas ke jenjang berikutnya. Ditambah lagi, pelaku usaha juga diuntungkan lantaran sertifikasi yang diperoleh dari BPOM atau stakeholder terkait sudah bisa diakui di dunia internasional.

Dari situ, seluruh pemangku kepentingan harus saling berkolaborasi untuk meningkatkan nilai ekonomis agar produk jamu atau obat-obatan herbal Indonesia dapat bersaing dengan pemimpin pasar di dunia yakni China dan India.

Patrick pun percaya bahwa jamu adalah warisan budaya yang patut diteruskan ke generasi-generasi berikutnya. Sebab, di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, jamu tetap menjadi salah satu produk herbal yang relevan bagi kalangan masyarakat.

"Konsumen itu memang selalu berkeinginan untuk hidup lebih baik lebih sehat dan jamu menginspirasi kita untuk menggunakan warisan budaya dan kekayaan alam yang sudah ada di Indonesia," pungkas dia.

Meski demikian, Patrick menegaskan dibutuhkan inovasi lebih lanjut untuk pengembangan industri jamu. Patrick pun mengharapkan industri dapat memposisikan kegiatan riset sebagai investasi, bukan beban biaya, karena memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar.

"Karena saintifikasi itu selalu memberi nilai tambah dan membuka lebih jauh pemahaman kita akan efektivitas dan kualitas dari suatu produk," ujar dia.

Patrick pun mengapresiasi kehadiran program-program seperti BRIDGE (Business/Research Information, Development, and Good Manufacturing/Governance) dan Orang Tua Angkat dari BPOM. Program seperti ini terbukti mampu membantu para pelaku usaha industri jamu untuk mengurangi beban biaya penelitian.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu), Jony Yuwono bilang, pengakuan UNESCO pada 2023 menjadi momentum penting untuk memperkenalkan jamu kepada pasar internasional, sebab banyak masyarakat luar negeri mulai mengenal jamu setelah UNESCO menetapkan budaya sehat jamu sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Kesadaran tersebut bahkan mulai mendorong munculnya usaha-usaha jamu yang dijalankan diaspora Indonesia di sejumlah negara.

"Sudah terlihat, dari pengalaman yang ada mulailah ada beberapa diaspora Indonesia yang membuka usaha jamu di luar negeri. Seperti di Amsterdam ada, di Amerika Selatan juga ada, dan responsnya cukup baik," ujar Jony.

Ia menjelaskan, pengakuan UNESCO bukan ditujukan kepada produk minuman jamu semata, melainkan pengetahuan dan tradisi masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan kekayaan hayati untuk menjaga kesehatan secara turun-temurun.

Di saat yang sama, menurutnya dunia saat ini dinilai sedang bergerak menuju tren wellness, di mana masyarakat semakin memperhatikan kesehatan preventif, pola hidup sehat, serta penggunaan bahan-bahan alami.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan BPOM RI, Mohamad Kashuri, mengatakan selain perusahaan besar, UMKM juga menjadi pemain penting pada ekosistem jamu. Untuk itu, penting bagi UMKM jamu untuk memahami regulasi yang berlaku serta terus melakukan inovasi agar bisa diterima masyarakat.

"UMKM harus melakukan inovasi dari sisi produk dan marketing. Jadi bagaimana jamu bisa berperan mendorong pertumbuhan ekonomi kita," ujarnya.

(rah/rah)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |