Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari 1% pada perdagangan Kamis (20/8/2026). Penguatan indeks terutama ditopang saham-saham berbasis komoditas dan tambang.
Berdasarkan data perdagangan akhir sesi pertama, IHSG berada di level 6.487,96, menguat 93,83 poin atau 1,47%. IHSG dibuka di level 6.447,25 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.493 dan terendah 6.4444.
Total transaksi hari ini mencapai RP 7,98 triliun, yang melibatkan 22,46 miliar saham dalam 1,3 juta kali transaksi. Sebanyak 417 saham menguat, 187 saham melemah dan 185 saham lainnya stagnan.
Dari sektoral, bahan baku menjadi sektor dengan penguatan paling tinggi, yakni 4,22%. Disusul sektor utilitas yang naik 1,45% dan energi 1,35%.
Penguatan sektor bahan baku menjadi salah satu penopang utama IHSG karena sejumlah saham berkapitalisasi besar di sektor komoditas mencatat kenaikan.
Berdasarkan kontribusi terhadap IHSG, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi penopang terbesar dengan kontribusi sekitar 14,37 poin. Selanjutnya PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menyumbang 9,52 poin dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 7,78 poin.
Saham tambang lainnya juga menopang indeks, seperti PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Adapun pada perdagangan IHSG hari ini akan dibayangi sejumlah sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, investor mencermati keputusan Bank Indonesia yang kembali mempertahankan BI-Rate di 5,75% dalam RDG 18-19 Agustus 2026. BI juga mempertahankan Deposit Facility 5% dan Lending Facility 6,5%. Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Dari eksternal, sentimen pasar cenderung mendapat dorongan dari penurunan yield US Treasury dan pelemahan dolar AS. Yield Treasury tenor panjang melandai setelah Departemen Keuangan AS menggandakan program buyback obligasi menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi. Indeks dolar AS turun 0,84% ke 98,83, yang berpotensi memberikan ruang bagi penguatan rupiah dan mengurangi tekanan terhadap SBN.
Namun, investor tetap mencermati risalah FOMC yang menunjukkan inflasi AS masih tinggi. Sejumlah pejabat The Fed bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi tidak kunjung turun. Sentimen tersebut menjadi penting di tengah desakan Presiden AS Donald Trump agar The Fed memangkas suku bunga.
Dari pasar komoditas, harga minyak kembali menguat seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. WTI naik 0,77% menjadi US$85,59 per barel dan Brent menguat 0,44% menjadi US$91,42 per barel.
Sementara di Asia, investor menanti data neraca perdagangan Jepang Juli serta keputusan Loan Prime Rate (LPR) China. Pasar memperkirakan LPR 1 tahun China tetap di 3% dan LPR 5 tahun di 3,5%. Data Jepang juga menjadi perhatian karena kuatnya impor dan ekspor dapat memberikan gambaran mengenai kondisi permintaan regional, termasuk potensi permintaan terhadap produk Indonesia.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
3

















































