Hormuz, Oman dan Pertarungan Tatanan Permanen Timur Tengah

15 hours ago 2

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pada 27 Mei 2026, Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang tidak biasa bahkan untuk standarnya sendiri: "Oman will behave just like everybody else, or we'll have to blow them up". Pernyataan itu muncul karena Iran dan Oman sedang menjajaki kemungkinan kerangka pengelolaan bersama Selat Hormuz tanpa keterlibatan Washington.

Bagi Trump, itu bukan sekadar perkembangan diplomatik yang perlu direspons. Itu adalah sinyal bahwa ruang yang selama ini dianggap berada di bawah kendali arsitektur AS mulai bergeser dan menjadi sangat berisiko baginya.

Trump memiliki dua batasan struktural yang konsisten: sensitivitas terhadap pasar keuangan, dan kalender elektoral. Hormuz yang tidak stabil berarti harga minyak naik, inflasi bertahan, dan Federal Reserve kehilangan ruang manuver- kombinasi yang pernah ia alami berdampak langsung pada persepsi publik terhadap ekonomi.

Dengan midterm November 2026 sebagai batas toleransi politik, Trump tidak punya insentif untuk membiarkan Hormuz menjadi variabel bebas terlalu lama. Ancaman terhadap Oman, dalam logika ini, adalah cara menekan proses yang ia tidak ingin berjalan tanpa keterlibatan Washington.

"Tiga Lapis" Pertarungan di Satu Selat

Hormuz saat ini tidak bisa dibaca hanya sebagai jalur pelayaran. Ia adalah ruang tumpang tindih tiga kepentingan yang saling mengunci.

Lapisan pertama adalah energi. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati selat ini. Fakta itu lama, tetapi implikasinya berubah ketika stabilitasnya tidak lagi dianggap otomatis.

Setiap gangguan kini tidak hanya berdampak pada logistik. Tetapi langsung pada persepsi risiko sistem energi global dan pada harga yang Trump, pasar energi dan keuangan pantau setiap hari.

Lapisan kedua adalah diplomasi transaksional. Dalam dinamika 2026, Hormuz mulai muncul sebagai variabel dalam kalkulasi negosiasi Iran-AS.

Gagasan bahwa akses pelayaran bisa menjadi bagian dari paket pembicaraan menunjukkan pergeseran penting: sesuatu yang dulu dianggap hak bersama komunitas internasional kini diperlakukan sebagai alat tukar. Bagi Trump, pada awalnya negosiasi seperti ini bukan masalah- ia nyaman dengan pendekatan transaksional.

Masalahnya adalah ketika transaksi itu mulai dirancang tanpa melibatkan Washington sehingga menjadi risiko yang terbuka.

Lapisan ketiga adalah yang paling menentukan: arsitektur jangka panjang. Ketika Iran dan Oman dilaporkan membahas kerangka pengelolaan bersama Hormuz, yang sedang diuji bukan mekanisme teknis semata, melainkan siapa yang berhak ikut merancang struktur permanen setelah fase konflik mereda.

Apakah bisa dikelola oleh negara-negara di Timur Tengah saja? Ini adalah pergeseran dari manajemen krisis ke desain tatanan - dan di sinilah Trump bereaksi paling keras, karena pergeseran ini berlangsung apalagi tanpa keterlibatan Washington.

Oman di Persimpangan

Oman selama ini mengambil posisi tidak menonjolkan diri, netral, tidak mengancam, dan dipercaya semua pihak sebagai saluran komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran. Posisi itu efektif justru karena Oman berada di luar struktur keputusan.

Namun posisi itu berubah begitu Oman tidak lagi sekadar menjadi perantara, tetapi ikut membahas kemungkinan desain pengelolaan Hormuz yang baru, pihak yang berkepentingan. Risikonya Oman tidak lagi dapat memiliki posisi netral dalam pengertian lama - dan Washington mulai memperlakukannya bukan sebagai mitra, melainkan sebagai variabel yang perlu dikendalikan.

Itulah dilema Oman ke depan. Menjaga relevansi berarti ikut masuk ke dalam arsitektur baru. Menjaga netralitas berarti perlahan kehilangan peran strategis yang selama ini menjadi fondasi pengaruhnya.

Hormuz sebagai Ujian Struktur Kekuasaan

Yang membuat Hormuz penting bukan hanya intensitas konfliknya, tetapi sifatnya. Ke depan, ini bukan lagi soal siapa yang menguasai selat, tetapi siapa yang berhak mendefinisikan cara selat itu diatur secara efektif.

Jika muncul mekanisme regional yang memberi Iran peran formal dalam pengelolaan Hormuz, itu akan menjadi preseden penting: bahwa tekanan strategis dapat dikonversi menjadi peta geopolitik kawasan baru yang lebih menguntungkan. Sebaliknya, jika Washington berhasil mempertahankan status quo- Hormuz tetap berada di bawah kerangka perairan internasional dengan dominasi kekuatan eksternal- pola lama bertahan, meskipun dengan biaya ketegangan yang terus berulang dan meningkat.

Dalam konteks pengakhiran Perang Iran itu sendiri, indikator mana yang lebih mungkin terwujud bisa diamati dari tiga variabel konkret dalam beberapa pekan ke depan: apakah mediasi Pakistan berlanjut atau mandek sebelum akhir Juni; apakah pergerakan kapal di Hormuz menunjukkan normalisasi atau masih dalam pola taktis IRGC; dan apakah pasar minyak mulai memperhitungkan premium risiko yang lebih tinggi sebagai respons terhadap kebuntuan diplomatik.

Penutup: Selat Hormuz dan Skenario yang Sudah Berjalan

Dalam analisis yang dipublikasikan 24 Mei 2026, tiga skenario krisis migas telah dipetakan berdasarkan skala gangguan Hormuz- dari Skenario A dengan disrupsi 2-5 juta barel per hari hingga Skenario C dengan eskalasi regional di atas 18 juta barel. Pemicu transisi dari Skenario A ke B diidentifikasi sebagai kebuntuan negosiasi pasca-Juni.

Berbagai perkembangan cepat telah terjadi selama sembilan hari terakhir ini. Namun perkembangan baru yang sangat mencolok adalah masing-masing pihak sedang memperjuangkan suatu tatanan permanen paska-perang.

AS dengan memaksakan perluasan Abraham Accords, sedangkan Iran dengan tata pengelolaan baru Selat Hormuz. Perkembangan yang ambisius oleh kedua pihak itu menjadikan pembahasan yang dimediasi oleh Pakistan menjadi semakin sulit, jika tidak dikatakan hampir mustahil.

Dan jika proses itu tidak menghasilkan kemajuan konkret sebelum akhir Juni, maka probabilitas transisi ke Skenario B meningkat - bukan karena perang kembali bergolak, tetapi karena ketidakpastian yang berkepanjangan itu sendiri cukup untuk menggerakkan persepsi risiko pasar energi global yang menjadi skeptis bahwa perang dapat segera berakhir. Optimisme yang sampai saat ini mencegah harga energi melonjak jauh tinggi lagi.


(sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |