Harga Sayuran Naik Akibat Fenomena Aneh di Warteg? BPS Ungkap Faktanya

10 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi terjadinya kenaikan harga-harga komoditas sayuran di Indonesia baru-baru ini, seiring dengan makin tingginya permintaan lauk pauk di tempat makan, seperti Warteg, sebagaimana disampaikan para pedagang.

Kondisi itu ercermin dari data inflasi pada Mei 2026, khususnya untuk kelompok pengeluaran Makanan, Minuman, dan Tembakau. Tekanan inflasi untuk kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau mencapai 0,39%, dan menjadi kontributor terbesar, yakni 0,28% terhadap inflasi umum pada Mei 2026 yang sebesar 0,28% secara bulanan atau month to month (mtm).

Komoditas sayuran itu pun menurut catatan BPS menjadi bagian dari komponen inflasi dari harga pangan bergejolak (volatile food) yang mengalami inflasi 0,22% dari sebelumnya pada April 2026 deflasi sebesar 0,88%.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menjelaskan, perkembangan harga pada kelompok komoditas itu sebetulnya dipicu oleh faktor musiman, seperti tingginya permintaan saat memasuki periode hari besar keagamaan nasional seperti menjelang Idul Adha.

"Jadi memang komoditas ini masuk ke kelompok harga barang yang bergejolak ya. Jadi ini bersifat musiman karena adanya hari besar keagamaan diantaranya ini menjadi salah satu pemicu adanya perubahan permintaan di masyarakat," kata Pudji saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Di sisi lain, ia mengatakan, komoditas itu juga naik disebabkan masalah produksi. Cabai misalnya, di beberapa sentra tercatat mengalami penurunan produksi pada April 2026, seperti di Garut, Temanggung, hingga Malang.

Bawang merah menurut Pudji juga mengalalmi penurunan panen pada Mei 2026 di sejumlah sentra produksi, seperti di Sampang, Enrekang, Bojonegoro, Pati, dan Demak. Dipicu oleh perubahan cuaca ekstrem, serangan organisme pengganggu tumbuhan, hingga kondisi kekerangan.

Tomat juga mengalami perubahan harga, namun kata Pudji, lebih disebabkan tinggianya permintaan produk hortikulutra di beberapa daerah menjelang perayaan Iduladha 1447 Hijriah.

"Itu jadi salah satu peristiwa yang terjadi yang menyebabkan adanya fenomena kenaikan harga sayuran tadi," ungkap Pudji.

Pudji mengatakan, dengan catatan itu, maka tak heran komoditas cabai merah, bawang merah, tomat, sawi hijau, cabai rawit, hingga timun masing-masing memiliki andil ke inflasi pada Mei 2026.

"Kalau cabai merah 0,08%, kemudian bawang merah 0,04%, kemudian tomat 0,03%, kemudian sawi hijau 0,01%, kemudian cabai rawit 0,01%, dan timun 0,01% ya," tegasnya.

Sebagai informasi, pedagang warteg sebelumnya telah makin resah dengan dampak dari kenaikan harga bahan makanan serta menurunnya daya beli masyarakat.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di kawasan Senen, Jakarta Pusat, beberapa pedagang warteg mulai mengeluhkan pembeli mengurangi lauk pauk efek harga bahan makanan makin mahal.

Salah satunya Amirah, ia menyebut makin banyak pembelinya yang hanya membeli lauk pauk di bawah Rp15.000 hingga Rp20.000, seperti tempe-tahu, telur balado, dan aneka gorengan. Pembeli juga menyiasati lebih banyak menggunakan sayuran.

Sedangkan lauk seperti ayam goreng, rendang daging sapi, semur sapi, cumi-cumi hitam, dan udang (goreng dan balado) pun mulai jarang dibeli.

"Iya betul, sekarang pembeli sudah mulai kurangi beli lauk seperti ayam goreng atau daging sapi, mereka belinya telur balado, tempe-tahu, sayuran, dan gorengan," kata Amirah saat ditemui CNBC Indonesia, Sabtu (30/5/2026).

Pembeli kini membeli menu warteg seharga Rp10.000-an, dan sudah mulai jarang ditemui yang membeli lebih dari Rp20.000. Alhasil, kini Ia mulai tidak menjual lauk yang di atas harga Rp20.000.

"Sekarang banyak yang beli lauk agar harga makanannya cuma Rp10.000-an, ya ada sih yang Rp15.000, cuma yang di atas Rp20.000 sudah mulai jarang," terangnya.

Senada dengan Amriah, Kusuma, pedagang warteg lain juga mengungkapkan adanya perubahan pemesanan lauk dari pembeli, di mana untuk lauk rendang dan udang makin kurang diminati.

"Benar, sekarang kebanyakan beli lauknya ya sayur tempe, tempe-tahu goreng, perkedel, kentang goreng, ya pokoknya yang masih sekitar Rp10.000," kata Kusuma.

Bahkan, kini Ia tidak menjual lagi aneka lauk udang, karena peminatnya sudah berkurang. Meski begitu, pihaknya masih menjual ayam goreng.

"Udang kan agak mahal ya, kalau udang sama nasi memang enggak sampai Rp20.000, cuma kan kadang orang-orang enggak pakai sayur sama sambal, itu kurang sedap, jadi pun udang-nasi-sayur itu bisa hampir Rp20.000, ya orang-orang kurangin pakai udang," jelasnya.

Sementara itu Surono, pedagang warteg lainnya juga mengungkapkan kini banyak pembeli yang membeli menu warteg sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000

"Gara-gara harga pada naik, sekarang orang-orang makin selektif beli lauk di warteg, biasanya kami siapin daging kikil cepet ludes, ini kadang sampai sore masih sisa. Apalagi yang daging rendang gitu-gitu," kata Surono.

Surono menambahkan, lauk seperti perkedel, kentang goreng, tempe-tahu, dan aneka sayuran lebih diminati. Sedangkan ikan goreng, daging sapi, dan udang mulai dikurangi.

"Orang-orang cari yang menu praktis, tapi nasi tetap, karena kami enggak kurangin porsi nasinya, jadi orang-orang lebih selektif ke lauknya, bukan nasi, yang penting sudah kenyang," ujarnya.

(arj/arj)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |