Eropa Tiba-Tiba Mulai Bongkar Ribuan Bendungan, Ada Apa?

2 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

30 May 2026 19:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Eropa mulai mengambil langkah yang terdengar tidak biasa dalam mengelola sungai. Alih-alih membangun lebih banyak bendungan, sejumlah negara Eropa justru mulai membongkar bendungan-bendungan tua yang sudah tidak lagi berfungsi.

Langkah ini menjadi bagian dari gerakan restorasi sungai yang makin kuat di Eropa. Tujuannya adalah mengembalikan aliran sungai agar lebih alami, memperbaiki habitat ikan, menjaga kualitas air, sekaligus memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim.

Mengutip National Geographic, gerakan ini ikut didorong oleh aturan baru Uni Eropa bernama Nature Restoration Regulation. Regulasi tersebut menargetkan 25.000 kilometer sungai di Eropa bisa kembali mengalir bebas pada 2030.Gerakan ini juga mulai menunjukkan hasil.

Laporan terbaru Dam Removal Europe mencatat, sebanyak 603 bendungan dan penghalang sungai dibongkar di 21 negara Eropa sepanjang 2025. Angka ini naik 11% dibandingkan 2024, ketika ada 542 penghalang sungai yang dihapus.

Pembongkaran itu membuat sekitar 3.740 kilometer sungai kembali terhubung. Langkah ini bukan sekadar merobohkan bangunan tua, tetapi juga membuka kembali jalur hidup bagi ikan, hewan air, dan ekosistem sungai yang selama ini terputus.

Bendungan Tua yang Sudah Terlupakan

Salah satu contoh pembongkaran terjadi di Sungai Vinstra, Norwegia. Di sana, sebuah bendungan setinggi sekitar lima meter dibongkar pada Desember tahun lalu.

Bendungan tersebut dibangun pada awal 1900-an. Saat itu, fungsinya adalah membantu pengangkutan kayu dan menghasilkan listrik tenaga air dalam skala kecil.

Namun, setelah puluhan tahun, bendungan itu tidak lagi digunakan. Bahkan, otoritas lokal disebut tidak menyadari bahwa struktur tersebut adalah bendungan buatan manusia. Mereka sempat mengira bangunan itu sebagai air terjun alami.

Karena sudah tidak memiliki fungsi penting, bendungan itu menjadi kandidat kuat untuk dibongkar. Tim pekerja kemudian mengeringkan waduk kecil di belakangnya, mengebor puluhan lubang pada beton, lalu menggunakan sekitar 750 kilogram bahan peledak untuk meruntuhkannya.

Setelah bendungan hancur, air bisa kembali mengalir lebih bebas. Bagi para pendukung restorasi sungai, momen seperti ini menjadi simbol perubahan besar dalam cara Eropa melihat sungai.

Setelah selama bertahun-tahun, bendungan dianggap sebagai simbol kemajuan dan pembangunan.Namun kini, banyak bendungan lama mulai dilihat sebagai beban karena tidak lagi produktif, mengganggu ekosistem, dan dalam beberapa kasus justru menimbulkan risiko keselamatan.

Kenapa Bendungan Mulai Dianggap Masalah?

Bendungan pada dasarnya memiliki banyak fungsi. Bendungan bisa digunakan untuk pembangkit listrik tenaga air, irigasi, pengendalian banjir, kebutuhan industri, hingga penyimpanan air.

Masalahnya, tidak semua bendungan masih relevan untuk saat ini. Banyak bendungan lama di Eropa kini sudah tidak dipakai, tidak terawat, dan hanya menjadi penghalang bagi aliran sungai saja.

National Geographic mencatat, ada setidaknya 1,2 juta bendungan dan penghalang sungai di Eropa. Penghalang ini tidak hanya berupa bendungan besar, tetapi juga bendung kecil, saluran bawah tanah, pintu air, hingga struktur lain yang pada dasarnya mengubah aliran sungai.

Dari jumlah tersebut, sedikitnya 150.000 struktur diperkirakan sudah usang atau tidak lagi memiliki fungsi.

Dampaknya tidak kecil. Bendungan dan penghalang sungai dapat mengubah arus alami air yang bisa membuat ikan sulit bergerak dari hulu ke hilir, atau sebaliknya. Padahal, banyak spesies ikan membutuhkan jalur sungai yang terbuka untuk berkembang biak dan bertahan hidup.

Penghalang sungai juga bisa menciptakan genangan air yang statis. Air yang tidak mengalir dengan baik lebih mudah tercemar dan kualitasnya bisa menurun.

Dalam jangka panjang, sungai yang terlalu banyak terpotong oleh bendungan dan penghalang bisa kehilangan kehidupan alaminya. Sungai yang seharusnya menjadi jalur hidup bagi ikan, serangga air, burung, dan berbagai ekosistem sekitar justru berubah menjadi aliran yang terfragmentasi.

Karena itu, pembongkaran bendungan tua mulai dipandang sebagai salah satu cara untuk memulihkan sungai. Bukan hanya untuk kepentingan lingkungan, tetapi juga untuk menjaga kualitas air dan mengurangi risiko bagi masyarakat sekitar.

Gerakan Bongkar Bendungan Makin Meluas

Gerakan menolak dan membongkar bendungan sebenarnya bukan hal baru di Eropa. Perlawanan terhadap bendungan mulai tumbuh sejak 1980-an, terinspirasi oleh gerakan lingkungan di Amerika Serikat pada 1970-an.

Pembongkaran bendungan besar pertama di Eropa mulai terjadi pada akhir 1990-an, ketika Prancis merobohkan tiga bendungan pembangkit listrik tenaga air. Namun setelah itu, lajunya sempat melambat.

Salah satu penyebabnya adalah biaya. Banyak komunitas mempertanyakan apakah bendungan yang dulu dibangun dengan biaya besar layak dirobohkan begitu saja. Selain itu, penolakan warga juga kerap muncul karena kekhawatiran terhadap banjir atau perubahan lanskap sekitar sungai.

Namun, dalam satu dekade terakhir, gerakan ini kembali menguat. Organisasi nirlaba Dam Removal Europe ikut mendorong kesadaran publik mengenai pentingnya membuka kembali aliran sungai.

Kini, lebih dari 9.000 bendungan dan penghalang sungai telah dihapus dari sungai-sungai Eropa. Dari jumlah tersebut, lebih dari 6.700 penghalang dibongkar setelah 2009.

Pada 2025 saja, sebanyak 603 penghalang sungai dibongkar di 21 negara Eropa. Jumlah ini meningkat 11% dibandingkan 2024 dan naik sekitar enam kali lipat dibandingkan 2020.

Menariknya, penghalang yang dibongkar tidak selalu berupa bendungan besar. Berdasarkan laporan Dam Removal Europe, sekitar 50% penghalang yang dibongkar pada 2025 merupakan saluran bawah tanah atau underground culverts. Sekitar 31% berupa bendung kecil atau weirs, sementara bendungan menyumbang sekitar 10% dari total struktur yang dihapus.

Mayoritas ukurannya juga kecil. Sekitar 78% penghalang yang dibongkar tingginya kurang dari dua meter. Sebanyak 20% memiliki tinggi antara dua hingga lima meter, sementara hanya 2% yang tingginya lebih dari lima meter.

Data ini menunjukkan bahwa masalah sungai di Eropa bukan hanya berasal dari bendungan raksasa. Struktur kecil yang tersebar di banyak titik juga bisa memecah aliran sungai dan menghambat kehidupan di dalamnya.

Beberapa proyek besar juga sempat menjadi perhatian, termasuk pembongkaran Bendungan Sindi di Estonia pada 2019 dan proyek restorasi di sepanjang Sungai Varde, Denmark.

Tidak Semua Bendungan Harus Dibongkar

Meski pembongkaran terus meningkat, bukan berarti Eropa ingin menghapus semua bendungan. Banyak bendungan masih dibutuhkan untuk pembangkit listrik, pengendalian air, irigasi, maupun kebutuhan lainnya.

Apalagi, Eropa juga masih membutuhkan energi bersih. Pembangkit listrik tenaga air tetap menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang penting bagi sejumlah negara.

Karena itu, fokus pembongkaran lebih diarahkan pada bendungan dan penghalang sungai yang sudah tidak berfungsi, tidak lagi produktif, atau manfaatnya tidak sebanding dengan kerusakan ekologis yang ditimbulkan.

Laporan Dam Removal Europe mencatat, hanya sekitar 5% dari penghalang yang dibongkar pada 2025 digunakan atau awalnya dibangun untuk pembangkit listrik tenaga air. Dalam banyak kasus, struktur tersebut juga sudah tidak lagi beroperasi.

Dengan kata lain, pembongkaran bendungan di Eropa bukan gerakan anti-infrastruktur. Langkah ini lebih merupakan upaya memilah mana bendungan yang masih penting dan mana struktur lama yang justru membuat sungai kehilangan fungsi alaminya.

Pada 2025, gerakan ini juga mulai menyebar ke negara-negara yang sebelumnya belum banyak melakukan pembongkaran. Islandia dan Makedonia Utara mencatat pembongkaran penghalang sungai pertama mereka.

Di Makedonia Utara, dua penghalang di Sungai Kriva dan Sungai Pčinja dibongkar. Proyek ini membuka kembali sekitar 72 kilometer habitat dan membantu lebih dari sepuluh spesies ikan lokal.

Sementara itu di Islandia, sebuah bendungan di Sungai Melsá yang dibangun pada 1958 untuk memasok listrik ke sebuah pertanian lokal akhirnya dibongkar setelah lama tidak digunakan. Pembongkaran itu membuat 2,55 kilometer habitat hulu kembali terhubung dan membantu melindungi spesies seperti sea trout dan salmon Atlantik.

Sungai Jadi Bagian dari Ketahanan Iklim

Pembongkaran bendungan tua kini tidak lagi dipandang sebagai isu lingkungan semata. Di Eropa, restorasi sungai mulai masuk ke dalam kebijakan yang lebih luas, mulai dari ketahanan iklim, keamanan air, hingga pemulihan keanekaragaman hayati. Sungai yang mengalir bebas dinilai lebih sehat dan lebih mampu menopang kehidupan di sekitarnya.

Aliran yang lebih alami dapat membantu ikan bermigrasi, memperbaiki kualitas air, dan mengurangi tekanan pada ekosistem.

Namun, tantangan sosial tetap ada. Banyak warga khawatir pembongkaran bendungan dapat memicu banjir atau mengubah kawasan yang sudah lama mereka kenal. Kekhawatiran seperti ini membuat proses pembongkaran perlu dilakukan hati-hati. Setiap proyek harus berbasis kajian, mempertimbangkan keselamatan warga, serta melibatkan masyarakat sekitar.

Meski begitu, pengalaman di sejumlah lokasi menunjukkan bahwa penolakan biasanya berkurang setelah sungai mulai pulih. Ketika air kembali mengalir, ikan mulai datang lagi, dan alam di sekitar sungai membaik, manfaatnya menjadi lebih mudah terlihat.

Dengan target Uni Eropa untuk membuka kembali 25.000 kilometer sungai pada 2030, pembongkaran bendungan tua kemungkinan akan semakin sering terjadi.

Eropa kini tidak hanya bicara soal membangun infrastruktur air. Benua tersebut juga mulai berani mengambil langkah sebaliknya, yakni mengurangi infrastruktur lama yang sudah tidak lagi berguna bagi manusia, tetapi masih menjadi penghalang besar bagi kehidupan sungai.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |