Eks Komandan Iran: Arab Saudi Punya Senjata Nuklir, AS dan Israel Tahu

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hussein Kanani, mengeklaim bahwa Arab Saudi telah memiliki senjata nuklir dan Amerika Serikat serta Israel sepenuhnya menyadari keberadaan senjata itu.

Tuduhan itu disampaikan Kanani dalam wawancara dengan RT, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran mengenai program nuklir Iran.

Kanani mengaku mengutip informasi intelijen ketika menyatakan saat ini, Arab Saudi memiliki bom nuklir dan aktivitas yang sangat diketahui oleh Amerika Serikat.

"Ya, itu benar. Saat ini," tegasnya, dikutip Kamis (12/2/2026), sambil menambahkan bahwa baik Israel maupun AS mengetahui hal itu secara penuh.

Selain tuduhan tersebut, mantan perwira tinggi IRGC itu juga menuding badan-badan intelijen asing seperti Mossad Israel dan CIA terlibat dalam mendukung gelombang protes antipemerintah di Iran. Menurut Kanani, tujuan mereka "bukan hanya untuk menggulingkan pemerintah tetapi untuk memecah belah Iran sepenuhnya dan mengeksploitasi situasi".

Pernyataan Kanani hadir di tengah eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran yang telah berlangsung beberapa bulan terakhir. Ketegangan itu mencuat setelah serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu, yang memicu kritik keras dari Iran dan munculnya unjuk rasa besar di beberapa kota utama di negeri itu. Teheran menuduh AS dan Israel berperan dalam memicu kerusuhan.

Presiden AS Donald Trump menanggapi situasi tersebut dengan pengerahan armada perang, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, ke kawasan Timur Tengah. Trump menuntut Iran membatasi pengayaan uranium dan program rudal balistiknya, sementara Iran menyatakan telah menyelesaikan upgrade persenjataan rudalnya dan mengubah doktrin militernya ke arah yang lebih ofensif.

Kanani memperingatkan bahwa jika AS melancarkan serangan, tanggapan Iran mungkin tidak langsung menyerang pangkalan AS.

"Jika Washington menyerang, langkah pertama Teheran mungkin tidak akan menargetkan pangkalan Amerika secara langsung. Rudal bisa diarahkan ke Israel sebagai gantinya," katanya.

Dia juga memperingatkan kemungkinan Iran menutup Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan strategis terhadap AS jika diperlukan.

Menurutnya, penutupan itu mungkin tak terhindarkan sebagai respons terhadap "provokasi" Washington, meskipun Iran tidak berniat merugikan ekonomi China atau Rusia.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |