Ekonomi Vietnam Sudah Tumbuh 8,02%, Apa Saja "Senjata" Rahasianya?

1 hour ago 1

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

06 February 2026 06:31

Jakarta, CNBC Indonesia- Ekonomi Vietnam tumbuh 8,02% sepanjang 2025. Angka ini menjadi laju tertinggi kedua dalam 15 tahun terakhir, setelah 2022 yang tumbuh 8,12%.

Data tersebut dirilis General Statistics Office (GSO) Vietnam di bawah Kementerian Keuangan, melansir kinerja ekonomi tahunan dan kuartalan negeri Naga Biru.

Pertumbuhan menguat pada akhir tahun. GSO mencatat ekonomi Vietnam tumbuh 8,46% secara tahunan pada kuartal IV-2025. Kepala GSO Nguyen Thi Huong menyampaikan bahwa pertumbuhan bergerak naik dari kuartal ke kuartal sepanjang tahun lalu, menjadikan kuartal IV sebagai fase terkuat dalam periode 2021-2025, mengutip pernyataan Huong dalam konferensi pers awal Januari 2026.

Secara struktural, sumber pertumbuhan Vietnam pada 2025 terkonsentrasi pada sektor jasa dan industri.

GSO mencatat sektor jasa menyumbang 51,08% terhadap PDB dengan pertumbuhan 8,62%.

Industri dan konstruksi tumbuh 8,95% dengan kontribusi 43,62%. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar 5,3%. Komposisi ini menjelaskan mengapa pertumbuhan tetap tinggi meski sektor primer tidak mengalami lonjakan signifikan.

Dari sisi nilai ekonomi, PDB nominal Vietnam pada 2025 diperkirakan mencapai US$514 miliar, naik sekitar US$38 miliar dibandingkan 2024. PDB per kapita meningkat menjadi US$5.026 dari US$4.700 setahun sebelumnya. GSO menempatkan capaian ini sebagai faktor utama yang mendorong Vietnam masuk ke kelompok negara berpendapatan menengah atas.

Perdagangan internasional menjadi mesin utama tambahan.

Melansir data GSO, total ekspor dan impor Vietnam sepanjang 2025 menembus US$930 miliar, naik 18,2% dibandingkan 2024.

Nilai ekspor mencapai US$475 miliar, tumbuh 17% secara tahunan. Terdapat 36 kelompok produk dengan nilai ekspor masing-masing di atas US$1 miliar, mencerminkan basis industri manufaktur yang semakin luas dan terdiversifikasi.

Di sisi makroekonomi, stabilitas harga terjaga. Inflasi rata-rata (CPI) Vietnam pada 2025 tercatat 3,31%. Angka ini memberi ruang bagi aktivitas ekonomi tanpa tekanan harga yang mengganggu daya beli. Lingkungan inflasi yang relatif terkendali menjadi faktor pendukung bagi konsumsi dan investasi, mengutip laporan tahunan GSO.

Aktivitas dunia usaha menunjukkan perbaikan kuantitatif. Sepanjang 2025, sebanyak 297.500 perusahaan baru terdaftar atau kembali beroperasi, naik 27,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Rata-rata hampir 24.800 perusahaan masuk ke pasar setiap bulan. Dalam periode yang sama, sekitar 18.900 perusahaan per bulan keluar dari pasar, mencerminkan dinamika restrukturisasi usaha yang masih berlangsung.

Sentimen bisnis menguat pada paruh akhir tahun. GSO mencatat pada kuartal IV-2025, proporsi perusahaan yang melaporkan kondisi usaha membaik naik 1,1% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Kelompok yang menilai kondisi usaha stabil turun 0,2%, sementara yang menilai kondisi memburuk turun 0,9%. Perubahan ini mengindikasikan perbaikan ekspektasi jangka pendek pelaku usaha.

Rebalancing 2026

Di balik capaian tahunan tersebut, laporan The Economy - Re-balancing in 2026 yang diterbitkan VinaCapital menilai pertumbuhan 2025 banyak ditopang faktor spesifik.

Mengutip laporan tersebut, lonjakan ekspor produk teknologi tinggi ke Amerika Serikat, terutama perangkat elektronik terkait AI, mencatat kenaikan tajam sepanjang 2025. Pariwisata juga memberi dorongan besar seiring pulihnya kunjungan wisatawan internasional, terutama dari China dan India.

VinaCapital mencatat konsumsi domestik Vietnam sepanjang 2025 belum sepenuhnya pulih ke tren historis. Rumah tangga cenderung menahan belanja setelah menguras tabungan selama pandemi.

Kondisi ini menjelaskan mengapa pertumbuhan tinggi lebih banyak datang dari ekspor, sektor jasa berbasis pariwisata, dan kenaikan nilai aset, mengutip analisis VinaCapital dalam laporan tersebut.

Untuk 2026, pemerintah Vietnam memasang target pertumbuhan minimal 10%. Target ini disetujui Majelis Nasional Vietnam pada 12 November, dengan sasaran PDB per kapita US$5.400-5.500 dan inflasi sekitar 4,5%.

Nguyen Thi Huong menyampaikan pencapaian target ini memerlukan percepatan realisasi belanja investasi publik, terutama proyek nasional strategis, serta perbaikan hambatan struktural yang selama ini menahan investasi.

Lembaga internasional memberi sinyal optimisme yang terukur. Standard Chartered pada Oktober 2025 menaikkan proyeksi pertumbuhan Vietnam menjadi 7,5% untuk 2025 dan 7,2% untuk 2026.

HSBC merevisi proyeksinya menjadi 7,9% dan 6,7%. Dari sisi sektor riil, S&P Global melaporkan PMI Manufaktur Vietnam berada di level 53,0 pada Desember 2025, menandakan ekspansi berlanjut meski laju sedikit melandai dibandingkan bulan sebelumnya.

Proyeksi Ketahanan Ekspor Vietnam ke 2026

Ke depan, ekspor Vietnam diperkirakan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, ekspor Vietnam ke Amerika Serikat tercatat naik 28% sepanjang 2025 dan menghasilkan surplus dagang setara 4% dari PDB.

Surplus dagang dengan AS saja mencapai 26% dari PDB, menjadikan 2025 sebagai tahun ke-10 berturut-turut Vietnam mencatatkan surplus perdagangan dan tahun ketiga berturut-turut nilainya melampaui US$20 miliar.

Ketahanan ekspor ini terjadi meski Amerika Serikat menerapkan tarif resiprokal sebesar 20% sejak Agustus 2025.

Seperti sebelumnya disebutkan, ekspor Vietnam tetap tumbuh karena lonjakan permintaan produk teknologi tinggi, khususnya laptop dan perangkat terkait kecerdasan buatan, yang naik sekitar 80% ke pasar AS.

Selain itu, berbagai pengecualian tarif untuk produk elektronik membuat tarif efektif yang dikenakan pada ekspor Vietnam berada di kisaran yang sebanding atau lebih rendah dibandingkan negara pesaing di kawasan.

Selama selisih tarif tidak melebar signifikan di atas 10 poin persentase, ekspor Vietnam dinilai tetap kompetitif, terutama ditopang struktur biaya tenaga kerja yang rendah.

Dari sisi prospek 2026, VinaCapital menilai permintaan dari AS cenderung bertahan. Konsumsi kelompok berpendapatan menengah atas di AS masih kuat, sementara kebijakan fiskal dan moneter AS diperkirakan tetap longgar menjelang pemilu sela. Indikator awal juga mengarah positif. Subindeks pesanan ekspor baru dalam PMI Vietnam mencapai level tertinggi 15 bulan pada November 2025.

Meski sempat melemah pada Desember akibat gangguan banjir yang menekan produksi, S&P Global menilai tekanan tersebut bersifat sementara. Arus investasi asing langsung juga belum terganggu, dengan realisasi FDI Vietnam naik 9% sepanjang 2025 hingga setara 5% dari PDB

Capaian pertumbuhan 8,02% pada 2025 menempatkan Vietnam sebagai salah satu ekonomi dengan performa tercepat di kawasan. Kekuatan utama berasal dari ekspor, jasa, dan industri, sementara konsumsi domestik masih dalam fase pemulihan. Struktur ini menjelaskan mengapa 2026 diposisikan sebagai tahun penyeimbangan ulang mesin pertumbuhan, dengan peran fiskal dan investasi publik menjadi penentu arah berikutnya.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |