Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
10 February 2026 18:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang libur panjang Tahun Baru Imlek 2026, pelaku pasar global menyoroti besarnya potensi likuiditas yang akan terkunci di pasar saham China.
Bursa saham China akan libur panjang pada 16-23 Februari 2026 untuk merayakan Hari Imlek.
Berbeda dengan estimasi kasar yang seringkali bias oleh transaksi surat utang dan gadai saham (Repo), analisis kali ini memfokuskan perhitungan pada nilai transaksi saham murni (spot equity).
Berdasarkan pendekatan data fundamental tersebut, estimasi nilai transaksi saham yang tidak terealisasi selama periode libur sepekan di dua bursa utama China diproyeksikan mencapai kisaran US$ 3,54 triliun.
Durasi Libur dan Dominasi Shenzhen
Otoritas pasar modal China menetapkan jadwal libur bursa mulai Senin, 16 Februari 2026 hingga Senin, 23 Februari 2026. Absennya aktivitas perdagangan selama enam hari efektif ini terjadi saat Bursa Shenzhen (SZSE) sedang mencatatkan performa transaksi yang sangat agresif.
Sebagai bursa yang didominasi oleh emiten teknologi, baterai kendaraan listrik, dan growth stocks, Shenzhen memiliki karakteristik perputaran uang yang jauh lebih cepat dibandingkan Shanghai.
Data pasar per Januari 2026 mencatat rata-rata nilai transaksi harian di Shenzhen mencapai RMB 2,26 triliun, sebuah angka yang mencerminkan tingginya partisipasi investor ritel dan spekulasi pasar di awal tahun.
Foto: Shenzhen Stock Exchange (Dok. CNBC)
Metodologi "Spot Equity": Rasio 81,5 Persen
Untuk mendapatkan gambaran nilai transaksi yang lebih presisi dan bebas distorsi, tim riset menerapkan metodologi penyaringan data historis. Bursa Shanghai (SSE) seringkali mencatatkan angka total transaksi yang sangat besar akibat dominasi pasar Repo antarbank dan obligasi negara, yang secara teknis bukan merupakan transaksi jual-beli saham biasa.
Mengacu pada bedah data fundamental terakhir yang komprehensif pada Desember 2021, ditemukan bahwa nilai transaksi murni saham (spot equity) di Shanghai secara konsisten berada di level yang lebih rendah dibandingkan Shenzhen.
Berdasarkan komparasi data bersih tersebut, rasio nilai transaksi saham Shanghai terhadap Shenzhen berada di level 81,5%. Dengan menerapkan rasio fundamental ini terhadap data aktual Shenzhen saat ini (RMB 2,26 triliun), maka estimasi nilai transaksi saham murni di Shanghai berada di kisaran RMB 1,84 triliun per hari.
Angka ini dianggap lebih merepresentasikan realitas minat investor pada saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) di Shanghai tanpa bias instrumen pasar uang.
Foto: Kota Shanghai. (Dok. Freepik)
Akumulasi Likuiditas dan Valuasi Jumbo
Melalui penggabungan kedua variabel tersebut, total nilai transaksi saham murni di pasar China saat ini diestimasikan mencapai RMB 4,10 triliun per hari.
Apabila diakumulasikan selama enam hari perdagangan efektif yang hilang akibat libur Imlek, total potensi transaksi saham yang tertahan menembus angka RMB 24,6 triliun. Jumlah ini adalah likuiditas riil yang seharusnya berputar di pasar ekuitas namun terhenti sementara waktu.
Implikasi dari angka tersebut sangat signifikan ketika dikonversi ke dalam valuasi mata uang asing. Dengan asumsi kurs US$ 1 setara dengan RMB 6,94, nilai transaksi saham yang hilang setara dengan US$ 3,54 triliun.
Lebih lanjut, jika dikonversi ke mata uang Rupiah dengan asumsi kurs CNY 1 setara dengan Rp 2.426, nilai transaksi yang tidak akan ditransaksikan atau "freeze" selama sepekan tersebut mencapai angka fantastis Rp 59.680 triliun atau hampir Rp 60.000 triliun.
Absennya perputaran dana saham senilai hampir enam puluh ribu triliun Rupiah ini menjadi indikator kuat bahwa pembukaan kembali pasar pada 24 Februari mendatang berpotensi memicu volatilitas akibat pelepasan maupun pembelian likuiditas yang tertunda.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

2 hours ago
2
















































