Dulu Tentara Sekarang Jadi Bos Startup Bernilai Ratusan Miliar

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia — Di usia 46 tahun, hidup Gene Yu terasa seperti kumpulan beberapa kehidupan yang dijalani sekaligus. Ia pernah menjadi atlet tenis Divisi 1, lulusan akademi militer paling bergengsi di Amerika Serikat, prajurit pasukan elite Green Beret, pemimpin misi penyelamatan sandera, penulis buku-dan kini CEO startup keamanan siber bernilai puluhan juta dolar.

Namun, dari semua pertempuran yang pernah ia hadapi, Yu justru menyebut satu yang paling berat: perang melawan dirinya sendiri.

Yu lahir di Concord, Massachusetts, sebagai satu-satunya anak Asia di lingkungannya. Pengalaman tumbuh sebagai minoritas membentuk luka yang lama ia pendam. Ia mengaku kerap menyerap pesan-pesan tak terucap dari lingkungan sekitar-bahwa dirinya "lebih rendah, tidak menarik, dan tidak setara".

Tekanan itu tak sepenuhnya reda di rumah. Dalam budaya Asia, kata Yu, cinta sering kali terasa bersyarat. Prestasi menjadi tolok ukur penerimaan. "Performance equals love," ujarnya. Jika gagal, maka cinta pun seolah menghilang.

Perasaan inilah yang mendorong Yu mengejar pencapaian tanpa henti. Ia menyebut dirinya seperti "anak yang terluka, mengenakan baju zirah Iron Man"-melindungi diri lewat identitas baru yang lebih kuat.

Militer menjadi jalan keluar. Di usia 17 tahun, Yu meninggalkan rumah dan masuk ke West Point. Rutinitas keras-bangun sebelum subuh, tidur menjelang tengah malam, enam hari seminggu tanpa libur musim panas-membentuk etos kerja ekstrem yang masih ia bawa hingga kini.

Setelah lulus, ia bergabung dengan Pasukan Khusus Angkatan Darat AS. Namun, karier militernya berbelok tajam pada 2009, ketika pamannya, Ma Ying-jeou, terpilih menjadi Presiden Taiwan. Status keluarga itu memicu penyelidikan internal dan membuat masa depan Yu di militer menjadi abu-abu.

Keputusan keluar dari angkatan bersenjata justru meninggalkan kehampaan mendalam. Ia kehilangan identitas, dihantui rasa bersalah karena rekan-rekannya masih bertempur di medan perang. "Saya merasa seolah ditinggalkan, padahal saya tahu saya berada di puncak kemampuan saya," katanya.

Pencarian jati diri membawanya ke berbagai arah: belajar bahasa Mandarin, melanjutkan studi pascasarjana di Johns Hopkins, hingga bekerja sebagai trader di Credit Suisse. Ia sempat menemukan rumah baru di Palantir Technologies-sebelum kembali terjatuh setelah terkena PHK pada 2013.

Masa itu menjadi titik terendah hidupnya. Tanpa uang, berpindah-pindah sofa teman, dan kehilangan arah.

Titik balik datang dari krisis nyata. Seorang teman keluarga, Evelyn Chang, diculik oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Yu kembali turun ke medan krisis, menyusun tim, dan membantu operasi penyelamatan yang berakhir sukses setelah 35 hari.

Dari pengalaman itulah lahir ide Blackpanda. Yu menyadari, perusahaan yang diserang secara siber membutuhkan respons secepat dan seterstruktur krisis penculikan atau terorisme. Keamanan digital, menurutnya, seharusnya diperlakukan sebagai layanan darurat, bukan sekadar produk teknologi.

Padahal, jika luka awalnya tidak pernah sembuh, siapa pun bisa menyakiti Anda dari arah lain." Gene Yu

Bersama mantan rekan Green Beret, Yu membangun Blackpanda. Startup ini kini telah menggalang pendanaan lebih dari US$21 juta atau Rp 355,09 miliar (kurs Rp 16.910) dan melayani perusahaan yang menghadapi serangan siber tingkat tinggi.

Namun, kesuksesan itu membawa refleksi baru. Yu kini percaya bahwa menggantungkan identitas pada prestasi adalah "permainan yang sudah diatur untuk kalah".

"Setiap pencapaian memberi ilusi bahwa semuanya akan baik-baik saja," ujarnya. "Padahal, jika luka awalnya tidak pernah sembuh, siapa pun bisa menyakiti Anda dari arah lain."

Bagi Yu, perjalanan hidupnya akhirnya bukan tentang menjadi yang terkuat, melainkan tentang berdamai dengan diri sendiri-sesuatu yang tak pernah diajarkan di medan perang, ruang kelas elit, atau dunia startup.

(mkh/mkh)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |