Jakarta, CNBC Indonesia - Kecerdasan buatan atau AI membuat saham dua raksasa teknologi global Alphabet dan Tesla anjlok pada perdagangan Kamis (23/7). Anjloknya saham ini menyusul rencana kenaikan belanja untuk AI, yang membuat para investor khawatir terhadap biaya besar yang harus dikeluarkan untuk mengejar ledakan AI.
Saham Tesla ditutup anjlok 14,5%, sementara Alphabet turun 7,1%. Penurunan ini menjadi hari terburuk Tesla sejak Maret 2025.
Tesla kehilangan sekitar US$200 miliar dalam kapitalisasi pasar pada Kamis. Sementara itu, perusahaan induk Google tersebut kehilangan sekitar US$300 miliar dari nilai pasarnya.
Alphabet juga menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini menjadi US$195 miliar-US$205 miliar. Perusahaan memperingatkan angka tersebut akan meningkat pada 2027. Sebelumnya, Alphabet memproyeksikan capex tahun ini berada di kisaran US$180 miliar-US$190 miliar.
Sementara itu, Tesla mencatat lonjakan capex sebesar 142% secara tahunan menjadi US$5,79 miliar pada kuartal II. Perusahaan juga memperkirakan capex tahun ini akan menembus US$25 miliar.
Saham Amazon ikut terseret. Saham perusahaan turun 4,6% pada Kamis dan menghapus sekitar US$120 miliar dari kapitalisasi pasarnya.
Manajemen kedua perusahaan berusaha meredam kekhawatiran investor terkait besarnya belanja tersebut.
"Ini adalah tahun dengan capex yang sangat besar. Saya yakin semua hal yang kami investasikan akan menghasilkan imbal hasil yang luar biasa. Sungguh, mungkin ini akan menjadi imbal hasil capex terbaik yang pernah kami lihat," kata CEO Tesla Elon Musk dalam paparan kinerja perusahaan, dikutip dari CNBC Internasional, Jumat (24/7/2026).
Musk juga memaparkan sejumlah inisiatif Tesla ke depan, termasuk produksi semikonduktor dan robot humanoid Optimus. Tesla menyoroti kedua bidang tersebut sebagai tujuan utama penggunaan belanja perusahaan.
Tesla mengatakan perusahaan sedang memasang lini generasi pertama untuk Optimus dan akan segera memulai produksi.
CFO Alphabet mengatakan kenaikan belanja tersebut terutama disebabkan oleh percepatan pengiriman kapasitas untuk memenuhi permintaan yang terus tumbuh.
Raksasa teknologi tersebut selama ini menyatakan belum memiliki kapasitas komputasi yang cukup untuk memenuhi permintaan AI yang terus meningkat.
"Investor tampaknya fokus pada kenaikan tajam belanja modal, ditambah prospek margin yang lebih lemah. Sementara itu, penundaan Gemini 3.5 Pro yang terus berlanjut dan kurangnya peluncuran produk yang menonjol telah menimbulkan pertanyaan apakah investasi AI Alphabet sudah menghasilkan keunggulan kompetitif yang jelas," kata Ben Barringer, Head of Technology Research di Quilter Cheviot.
Meski demikian, kinerja kedua perusahaan juga menunjukkan sejumlah titik terang.
Investasi Google mulai menunjukkan tanda-tanda membuahkan hasil. Pendapatan bisnis cloud Google melonjak 82% menjadi US$24,8 miliar dan melampaui ekspektasi.
"Ini adalah salah satu kuartal dengan pertumbuhan pendapatan terkuat yang dimiliki Alphabet dalam lima tahun terakhir. Alphabet juga menjadi barometer yang sangat baik untuk keseluruhan gelombang AI ini," kata Alison Porter, Portfolio Manager di Janus Henderson.
Porter menyoroti pertumbuhan kuat Google Cloud serta kenaikan margin operasional divisi tersebut menjadi 35,6% pada kuartal II dari 20,7% pada periode yang sama tahun lalu.
Menurutnya, kinerja tersebut menunjukkan dampak positif investasi yang dilakukan Alphabet.
"Kami menilai gambaran ini, sangat menggembirakan bagi keseluruhan capex AI dan juga bagi imbal hasil yang diperoleh platform-platform ini dari belanja tersebut," kata Porter.
Di Tesla, bisnis otomotif inti perusahaan mencatat pendapatan US$20,52 miliar, naik 23% secara tahunan.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

5 hours ago
2















































