Amalia Zahira, CNBC Indonesia
11 February 2026 16:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Permintaan minyak sawit diperkirakan akan melemah seiring meningkatnya pasokan minyak nabati alternatif yang lebih murah ke China.
China adalah pasar terbesar minyak sawit dunia sehingga perkembangan di sana akan sangat menentukan harga global.
China kini sedang mendapatkan diskon untuk minyak kedelai dan kanola. Kondisi ini berpotensi menekan impor sawit sekaligus memengaruhi dinamika pasar global.
Kesepakatan dagang antara China dan Kanada membuka akses lebih luas terhadap minyak kanola dengan harga kompetitif. Selain dari Kanada, China juga meningkatkan pembelian kanola dari Australia serta impor minyak kedelai dalam jumlah besar. Dinamika ini turut menekan permintaan minyak sawit di negara tersebut.
Meskipun ada harapan kenaikan permintaan di Tahun Baru Imlek, pelaku pasar menilai permintaan China tidak akan setinggi sebelumnya. Pasalnya, Tiongkok kini memiliki lebih banyak opsi minyak nabati dengan harga relatif lebih murah.
"Saya pikir pihak China, dalam beberapa hal, tidak terlalu terdesak karena mereka memiliki banyak pilihan dibandingkan India. ... Pihak China masih sangat memperhatikan harga di bursa Dalian," ujar analis tersebut kepada Reuters menjelang konferensi industri di Kuala Lumpur, dikutip dari BusinessTimes.
Ia juga menambahkan bahwa harga minyak sawit Indonesia yang lebih kompetitif turut memengaruhi ekspor minyak sawit Malaysia ke China.
Dewan Minyak Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Board/MPOB) melaporkan bahwa ekspor ke China turun 35,7% tahun lalu.
Namun demikian, Malaysia berpotensi mengambil keuntungan dari rencana kenaikan pungutan (levy) ekspor Indonesia yang dijadwalkan berlaku pada Maret, kata analis tersebut.
Sementara itu, seorang analis dari Indonesia memperkirakan harga minyak sawit akan sedikit menurun tahun ini karena produksi sawit yang kuat serta output minyak kedelai (soyoil) yang juga tinggi menekan pasar.
China sangat bergantung pada impor minyak nabati dari luar negeri (seperti minyak sawit, minyak kedelai, rapeseed/kanola, dan bunga matahari) untuk mendukung produksi domestiknya, sehingga membuat negara tersebut sangat rentan terhadap volatilitas harga global dan gangguan pasokan.
Meskipun minyak kedelai masih mendominasi dengan menyuplai sekitar 40% konsumsi minyak goreng China, penggunaan minyak sawit terus meningkat secara bertahap, sebagian karena harganya yang lebih murah, serbaguna, dan memiliki daya simpan yang lebih lama.
(mae/mae)

2 hours ago
1















































