Asing Masuk di Tengah Isu OJK dan MSCI, Ini 10 Saham Paling Diborong

2 hours ago 4

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

08 February 2026 10:15

Jakarta, CNBC Indonesia — Pasar saham Indonesia menutup perdagangan pekan lalu dengan dinamika yang cukup menarik perhatian pelaku pasar. Di tengah sentimen domestik yang beragam-mulai dari penundaan rebalancing indeks MSCI hingga kabar pengunduran diri sejumlah pejabat teras Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI)-investor asing justru mencatatkan net foreign buy yang signifikan.

Masuknya dana asing di tengah ketidakpastian regulasi ini mengindikasikan kepercayaan investor global terhadap fundamental emiten big caps di Indonesia. Pelaku pasar asing tampaknya memanfaatkan volatilitas jangka pendek sebagai momentum akumulasi pada saham-saham dengan valuasi menarik.

Akumulasi Asing Sepekan Terakhir

Sepanjang satu minggu perdagangan terakhir, arus dana asing masih terkonsentrasi pada sektor perbankan, infrastruktur, dan energi. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kokoh di posisi puncak sebagai penopang utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Selain itu, sektor energi dan mineral juga mendapat porsi aliran dana yang cukup besar.

Berikut adalah daftar 10 saham dengan nilai pembelian bersih asing (Net Foreign Inflow) tertinggi selama sepekan terakhir:

Lonjakan Arus Dana pada Perdagangan Jumat

Pola transaksi pada penutupan perdagangan akhir pekan (Jumat) menunjukkan adanya peningkatan intensitas pembelian dan rotasi sektor. Selain BMRI yang nilai pembeliannya melonjak signifikan, sektor pertambangan batubara dan telekomunikasi pelat merah juga menjadi sasaran utama akumulasi asing.

Berikut adalah daftar 10 saham dengan nilai pembelian bersih asing (Net Foreign Inflow) tertinggi khusus pada perdagangan hari Jumat lalu:

Faktor Pendorong Akumulasi

Dominasi sektor perbankan (BMRI, BBCA) dalam daftar akumulasi mingguan menegaskan preferensi investor asing terhadap aset likuid dan defensif. Di tengah isu pergantian kepemimpinan regulator pasar modal, saham perbankan big caps dinilai memiliki risiko yang lebih terukur dibandingkan sektor lainnya.

Sementara itu, lonjakan pembelian pada sektor energi dan mineral (BUMI, BRMS, ADMR, MEDC, ANTM) mengindikasikan bahwa pelaku pasar asing sedang melakukan repositioning portofolio untuk mengantisipasi pergerakan harga komoditas global. Mengingat harga emas yang tengah terkoreksi cukup dalam ditambah dengan ketakutan pasar memberikan momentum yang cukup optimal untuk melakukan akumulasi.

Penundaan rebalancing MSCI juga memberikan ruang bagi investor institusi untuk masuk ke saham-saham berfundamental kuat yang sempat terkoreksi sebelumnya.

Selain itu, masuknya TLKM dan EXCL dalam jajaran top inflow menunjukkan bahwa sektor telekomunikasi masih dipandang menarik sebagai sektor defensif di tengah volatilitas pasar yang masih membayangi.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |