AS Warning Kapal-Kapal Dekat Selat Hormuz, Persiapan Serang Iran?

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Administrasi Maritim Amerika Serikat mengeluarkan peringatan resmi kepada kapal-kapal berbendera AS untuk tetap berada sejauh mungkin dari perairan Iran saat menavigasi Selat Hormuz. Langkah ini diambil seiring dengan tetap tingginya ketegangan antara Washington dan Teheran di salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia tersebut.

Dalam pemberitahuan yang dirilis pada Senin (9/2/2026), badan di bawah Departemen Transportasi tersebut secara spesifik menginstruksikan para kapten kapal untuk menolak izin bagi pasukan Iran yang mencoba menaiki kapal milik Amerika Serikat.

"Kapten kapal harus menolak izin bagi pasukan Iran untuk naik ke atas kapal AS," tulis pengumuman resmi Administrasi Maritim Amerika Serikat tersebut dikutip CNBC International.

Instansi tersebut mengungkapkan bahwa upaya paksa untuk menaiki kapal, termasuk tindakan memaksa kapal komersial masuk ke perairan Iran menggunakan kapal kecil dan helikopter, masih terus terjadi. Menurut lembaga itu, insiden semacam itu bahkan baru saja terjadi pada tanggal 3 Februari lalu.

Jika pasukan Iran berhasil naik ke kapal komersial berbendera AS, kru disarankan untuk tidak melakukan perlawanan secara fisik terhadap pihak yang naik ke kapal tersebut.

"Jika pasukan Iran menaiki kapal komersial berbendera AS, kru disarankan untuk tidak melawan secara paksa terhadap pihak yang naik ke kapal tersebut," sebut pernyataan dalam pemberitahuan tersebut.

Pihak otoritas menambahkan bahwa menahan diri dari perlawanan paksa bukan berarti memberikan persetujuan atau kesepakatan terhadap tindakan penggeledahan tersebut. Selain itu, panduan tersebut merekomendasikan agar kapal yang transit ke arah timur di Selat Hormuz untuk tetap berada di dekat sisi perairan Oman.

Pedoman ini muncul menyusul putaran pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran yang diadakan di Oman pada hari Jumat, yang berfokus pada pendekatan diskusi mengenai program nuklir Teheran. Pertemuan tersebut merupakan pembicaraan pertama sejak pembom AS menyerang tiga situs nuklir Iran selama perang 12 hari dengan Iran pada bulan Juni lalu.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai sebuah kemajuan, meski ia mengisyaratkan bahwa ini adalah tahap awal dari proses diplomatik yang panjang.

"Pembicaraan ini merupakan sebuah langkah maju," ujar Pezeshkian.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyampaikan sentimen serupa kepada media pemerintah setempat mengenai hasil pertemuan tersebut. Abbas Araghchi mengatakan bahwa pembicaraan yang berlangsung di Muscat itu merupakan sebuah awal yang baik.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyebut pembicaraan di Oman tersebut berlangsung dengan sangat baik dan sesi-sesi berikutnya telah direncanakan.

"Pembicaraan di Oman sangat baik dan lebih banyak sesi telah direncanakan," kata Donald Trump.

Meski demikian, Trump tetap memberikan peringatan keras kepada Iran bahwa kegagalan untuk mencapai kesepakatan akan membawa konsekuensi yang sangat berat bagi negara tersebut.

"Kegagalan untuk mencapai kesepakatan akan membawa konsekuensi yang sangat curam bagi Iran," tegas Donald Trump.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump di Washington pada hari Rabu untuk membahas pembicaraan AS-Iran tersebut. Sebagai sekutu dekat AS, Israel terus melobi Washington untuk membubarkan program nuklir Iran, membatasi program rudal balistiknya, dan menghentikan dukungannya terhadap kelompok militan di kawasan.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur sempit penghubung Teluk Persia dan Laut Arab, kembali menjadi sorotan tahun ini setelah Trump memperingatkan kemungkinan tindakan militer terhadap Teheran. Gangguan pada jalur ini sangat krusial mengingat signifikansinya terhadap pasokan energi global.

Sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari transit di Selat Hormuz pada tahun 2025 menurut data dari intelijen pasar Kpler, yang mencakup hampir sepertiga dari aliran minyak mentah melalui laut global.

(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |