Alert! Salju Abadi Papua di Ujung Tanduk, RI Bisa Kehilangan Gletser

5 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia berpotensi kehilangan seluruh gletser atau lapisan es abadinya dalam beberapa tahun ke depan. Para ilmuwan memperingatkan dua gletser terakhir yang tersisa di kawasan Puncak Jaya, Papua, diperkirakan akan lenyap paling lambat pada tahun 2027 akibat perubahan iklim dan dampak fenomena El Niño.

Puncak Jaya yang merupakan gunung tertinggi di Asia Tenggara menjadi rumah bagi gletser tropis terakhir di kawasan Asia. Namun kondisinya terus menyusut secara drastis dalam beberapa dekade terakhir.

Data pemantauan menunjukkan kawasan tersebut telah kehilangan sekitar 97% lapisan esnya dalam 44 tahun terakhir. Dari enam gletser yang pernah ada, kini hanya tersisa dua, yakni Gletser Carstensz dan East Northwall Firn dan keduanya diperkirakan tidak akan mampu bertahan hingga akhir dekade ini.

Peneliti iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Donaldi Permana mengatakan, pemanasan global menjadi penyebab utama mencairnya es di Papua. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh kemunculan El Niño yang membuat wilayah Papua menjadi lebih kering dan hangat.

Ia menjelaskan, saat suhu meningkat, batas ketinggian pembentukan salju ikut naik sehingga curah hujan yang seharusnya turun dalam bentuk salju berubah menjadi hujan. Akibatnya, lapisan es kehilangan pasokan salju baru dan pencairan berlangsung semakin cepat.

"Pemanasan menyebabkan lebih banyak presipitasi turun sebagai hujan daripada salju, sehingga mempercepat pencairan es," ujar Permana dikutip dari Colombia Climate School, Rabu (27/5/2026).

Permana dan timnya melakukan penelitian menggunakan inti es sepanjang 32 meter yang diambil dari Papua pada tahun 2010. Hasil penelitian menunjukkan laju penyusutan es meningkat tajam saat El Niño terjadi. Pada periode El Niño 2015-2016, tingkat penipisan vertikal gletser meningkat hampir lima kali lipat, dari sekitar satu meter per tahun menjadi 5,3 meter per tahun.

Berdasarkan pemodelan yang dilakukan tim peneliti, luas gletser Papua menyusut dari sekitar 19,3 kilometer persegi pada 1850 menjadi hanya sekitar 0,16 hingga 0,23 kilometer persegi pada periode 2022-2024. Luas tersebut setara penyusutan dari sekitar 3.500 lapangan sepak bola menjadi hanya sekitar 40 lapangan sepak bola.

Permana bahkan memperingatkan beberapa model iklim menunjukkan gletser Papua bisa hilang dalam waktu sangat dekat.

"Dengan meningkatnya kemungkinan El Niño kuat pada paruh kedua 2026, hilangnya gletser Indonesia kemungkinan terjadi pada 2026-2027," katanya.

Dampak hilangnya salju abadi Papua tidak hanya menyangkut lingkungan, tetapi juga budaya masyarakat setempat. Bagi banyak komunitas adat Papua, kawasan puncak gunung yang diselimuti salju memiliki nilai spiritual yang tinggi. Gletser dianggap sebagai bagian penting dari identitas budaya dan tempat bersemayamnya para leluhur.

Wewin Wira Cornelis Wahid, peneliti keberlanjutan asal Indonesia yang diwawancarai GlacierHub, mengatakan hilangnya salju abadi berarti hilangnya bagian penting dari warisan budaya Papua.

"Salju abadi bukan hanya bentang alam, tetapi juga bagian dari identitas spiritual masyarakat. Kehilangannya mencerminkan terkikisnya warisan budaya," ujarnya.

Geolog dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Mike Kaplan menyebut gletser tropis sebagai "peringatan dini" terhadap dampak perubahan iklim global. Menurut Kaplan, meskipun emisi gas rumah kaca dihentikan saat ini juga, sistem iklim bumi tetap membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Artinya, suhu global masih berpotensi meningkat dalam beberapa tahun ke depan dan membuat peluang bertahannya gletser Papua semakin kecil.

"Kenaikan suhu global secara langsung berkontribusi pada pencairan gletser global. Bagi gletser Indonesia, hal ini ditandai dengan tahun-tahun El Niño," kata ia.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |