Salma Laiqa, CNBC Indonesia
17 September 2026 20:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Garam merupakan salah satu komoditas esensial tertua di dunia.
Selama 5.000 tahun, garam telah memengaruhi cara berbagai peradaban mengawetkan makanan, membangun jaringan perdagangan, menggerakkan industri, hingga mengelola infrastruktur publik.
Sejarah garam berawal dari peradaban-peradaban tertua di dunia. Sekitar 3.000 Sebelum Masehi (SM), garam sudah mulai dipanen di China dan Mesir.
Perkembangannya kemudian semakin maju. Pada 252 SM, para pekerja di China telah mengebor sumur air garam dengan kedalaman lebih dari 300 kaki atau sekitar 91 meter. Memasuki tahun 200 M, China bahkan mulai menggunakan gas alam untuk membantu proses produksi garam.
Pengaruh garam bahkan tercermin dalam bahasa. Sejumlah kata dalam bahasa Inggris seperti salary, salad, sausage, dan sauce memiliki akar yang berkaitan dengan garam (salt), menunjukkan betapa pentingnya mineral ini dalam kehidupan sehari-hari sejak masa lalu.
Dari Pengawetan Hingga Infrastruktur
Selama berabad-abad, peran utama garam adalah untuk mengawetkan makanan. Daging dan ikan yang diasinkan membantu memenuhi kebutuhan pangan pasukan tentara, mendukung perjalanan laut jarak jauh, sekaligus mendorong perdagangan lintas wilayah.
Peran garam kemudian berubah seiring perkembangan teknologi. Pengalengan dan refrigerasi mengurangi ketergantungan pada garam sebagai bahan pengawet, sementara kemajuan di bidang kimia, energi, dan infrastruktur membuka berbagai kegunaan baru.
Kini, garam digunakan untuk beragam kebutuhan, mulai dari proses industri hingga pemeliharaan infrastruktur di negara-negara dengan musim dingin.
Permintaan Garam Tetap Bertahan
Meski kegunaannya terus berubah, permintaan garam telah bertahan selama sekitar 5.000 tahun. Saat ini, terdapat lebih dari 14.000 kegunaan garam yang terdokumentasi.
Di Amerika Utara, salah satu sumber permintaan utamanya berasal dari kebutuhan pencairan es di jalan. Pasar ini bersifat berulang, banyak didanai pemerintah, dan hingga kini masih memiliki sedikit alternatif yang dapat digunakan dalam skala besar.
Bagaimana dengan Indonesia?
Di Indonesia, garam bukan hanya digunakan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga. Sebagian besar permintaan justru berasal dari sektor industri, terutama industri Chlor-Alkali Plant (CAP) yang menggunakan garam berkualitas tinggi sebagai bahan baku untuk memproduksi soda kaustik dan klorin.
Kedua bahan tersebut kemudian digunakan kembali dalam berbagai kegiatan manufaktur, mulai dari industri kimia, pulp dan kertas, tekstil, petrokimia, farmasi, hingga pengolahan pangan. Dengan demikian, peran garam di Indonesia lebih dekat dengan kebutuhan industri dibandingkan fungsi road de-icing yang menjadi pasar utama di negara-negara bermusim dingin.
Di sisi produksi, pasokan garam nasional masih cukup berfluktuasi. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan produksi domestik belum mampu tumbuh secara konsisten, dengan pergerakan yang naik-turun cukup tajam dalam beberapa tahun terakhir.
Fluktuasi produksi ini menjadi tantangan karena kebutuhan industri relatif besar dan membutuhkan garam dengan spesifikasi tertentu.
Artinya, bagi Indonesia, garam bukan sekadar komoditas pangan, tetapi juga menjadi salah satu bahan baku penting yang menopang aktivitas industri.
(slm/slm)

2 hours ago
1
















































